JAKARTA – Momen unik pada Piala Dunia 2026 terlihat di luar lapangan saat Pelatih Timnas Jepang, Hajime Moriyasu sedang santai menikmati situasi di luar laga. Pada saat itu, pemain Timnas Inggris, Harry Kane lewat mengenakan jaket hoodie berwarna abu-abu, tanpa sungkan, Hajime mengajaknya berswafoto dan disambut dengan santai oleh Kane.
Kedua sosok ini langsung mencuri perhatian. Moriyasu, yang kini berusia 57 tahun dan telah menangani Timnas Jepang sejak 2018, dikenal sebagai pelatih yang rendah hati dan seperti “bapak-bapak” biasa pada kehidupan sehari-hari. Mantan pemain Sanfrecce Hiroshima ini dikenal selalu membawa buku catatan, mencatat detail taktik, dan menggunakan papan bernomor untuk berkomunikasi dengan pemainnya—cara unik yang sering viral pada Piala Dunia ini.
Meski tampak serius dan disiplin di lapangan, Moriyasu kerap menunjukkan sisi humanisnya. Ia pernah terlihat menangis haru saat mendengar lagu kebangsaan Jepang, berterima kasih kepada pengaruh pelatih Belanda dalam kariernya, dan dengan senang hati berfoto dengan fans atau siapa pun yang ditemui. Sikapnya yang sederhana dan penuh rasa syukur membuatnya dicintai banyak orang, seolah-olah seperti ayah yang sedang mengawasi anak-anaknya bermain.
Sementara itu, Harry Kane, kapten Timnas Inggris dan striker Bayern Munich yang berusia 32 tahun, dikenal sebagai pemain profesional yang rendah hati dan ramah. Sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Inggris dengan lebih dari 80 gol internasional, Kane tetap santai dan approachable di luar lapangan. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tenang, tidak sombong, dan selalu menghargai interaksi dengan rekan sesama pemain maupun pelatih dari tim lain.
Momen swafoto singkat antara Moriyasu dan Kane ini mencerminkan semangat olahraga yang indah: dua generasi dan dua budaya berbeda bertemu dalam suasana santai di tengah turnamen bergengsi. Moriyasu yang seperti bapak-bapak biasa dengan kaus kasualnya, dan Kane yang tetap humble meski statusnya sebagai salah satu penyerang terbaik dunia, berhasil menciptakan kenangan manis pada Piala Dunia 2026.
Momen seperti ini mengingatkan kita bahwa di balik persaingan ketat di lapangan, para pelaku sepak bola tetap manusia biasa yang bisa saling menghargai dan menikmati momen bersama. Semoga semangat positif ini terus mewarnai perjalanan kedua tim di turnamen ini.


