JAKARTA — Dampak gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) terus bertambah. Data terbaru menunjukkan sedikitnya 6.458 warga terdampak bencana yang melanda sejumlah wilayah, dengan Kabupaten Sigi menjadi daerah yang mengalami kerusakan paling parah.
Hingga Rabu (17/6) malam, proses pendataan masih berlangsung di lapangan. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta berbagai instansi terkait terus melakukan penanganan darurat guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat segera terpenuhi.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa asesmen masih dilakukan di sejumlah wilayah sehingga data korban maupun kerusakan berpotensi mengalami perkembangan.
“Berdasarkan data sementara yang dihimpun hingga saat ini, sedikitnya 2.012 kepala keluarga atau 6.458 jiwa terdampak gempa yang terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah,” ujar Abdul Muhari dalam keterangan resmi.
Sigi Jadi Episentrum Dampak Terparah
Dari total warga terdampak, sebanyak 1.991 kepala keluarga atau 6.418 jiwa berada di Kabupaten Sigi. Sementara itu, Kabupaten Parigi Moutong mencatat 21 kepala keluarga atau 40 jiwa terdampak. Pendataan di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Poso masih terus diperbarui seiring berlangsungnya kaji cepat di lapangan.
Selain menimbulkan kerusakan fisik yang luas, gempa juga menyebabkan korban jiwa. BNPB mencatat satu orang meninggal dunia di Kabupaten Sigi. Di samping itu, terdapat 15 korban luka berat dan 64 korban luka ringan yang tersebar di sejumlah wilayah terdampak.
Mayoritas korban luka berada di Kabupaten Sigi dengan rincian 15 orang mengalami luka berat dan 61 orang luka ringan. Sementara itu, satu korban luka ringan tercatat di Kabupaten Poso dan dua korban luka ringan lainnya berada di Kota Palu.
“Seluruh data korban masih dalam proses verifikasi dan pembaruan seiring berjalannya asesmen lapangan,” kata Abdul Muhari.
Lebih dari 1.600 Rumah Rusak
Skala kerusakan akibat gempa juga tergolong signifikan. Data sementara menunjukkan sedikitnya 1.456 rumah mengalami kerusakan ringan. Sebanyak 1.378 unit berada di Kabupaten Sigi, 63 unit di Kota Palu, dan 15 unit di Kabupaten Poso.
Selain itu, tercatat 112 rumah mengalami kerusakan sedang dan 47 rumah mengalami kerusakan berat. Seluruh rumah dengan kategori rusak sedang dan berat tersebut berada di Kabupaten Sigi.
Di Kabupaten Parigi Moutong, sedikitnya 15 rumah dilaporkan mengalami kerusakan atau terdampak gempa. Namun jumlah tersebut masih dapat bertambah karena proses pendataan belum selesai dilakukan.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada permukiman warga. Puluhan fasilitas publik turut terdampak, mulai dari tempat ibadah hingga infrastruktur transportasi.
BNPB mencatat sedikitnya 35 fasilitas ibadah, 10 fasilitas pendidikan, 11 gedung perkantoran, dua jembatan, lima unit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), empat hotel, satu villa, satu gedung pertemuan, serta satu rumah adat mengalami kerusakan akibat guncangan gempa.
Sebagian besar kerusakan fasilitas umum tersebut terkonsentrasi di Kabupaten Sigi. Sementara Kota Palu mengalami kerusakan pada sejumlah gedung perkantoran, hotel, tempat usaha, serta Jembatan Palu III yang kini masih ditutup sementara untuk kepentingan pemeriksaan teknis.
Jembatan Palu III Retak, Jalur Poso Alami Amblas
Salah satu dampak yang menjadi perhatian pemerintah adalah kerusakan infrastruktur vital. Jembatan Palu III dilaporkan mengalami keretakan pada struktur bangunan sehingga ditutup sementara demi alasan keselamatan.
Pemerintah daerah bersama instansi teknis terkait saat ini masih melakukan evaluasi dan kajian menyeluruh untuk memastikan tingkat keamanan jembatan tersebut sebelum kembali dibuka untuk umum.
Di Kabupaten Poso, gempa juga memicu kerusakan pada ruas jalan provinsi yang menghubungkan Palu-Sigi-Poso. Beberapa titik jalan dilaporkan mengalami amblas sehingga mengganggu mobilitas masyarakat dan distribusi bantuan.
Kondisi semakin menantang karena akses menuju Kecamatan Lore Utara di Kabupaten Poso hingga kini belum dapat dijangkau secara optimal.
“Terputusnya jaringan komunikasi, keterbatasan personel, dan sarana transportasi menjadi kendala utama dalam proses asesmen di wilayah tersebut,” ungkap Abdul Muhari.
Status Tanggap Darurat Ditetapkan
Menyikapi situasi tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama tujuh hari melalui Keputusan Gubernur Nomor 300.2.1/199/BPBD-6-ST/2026 yang berlaku sejak 17 hingga 23 Juni 2026.
Langkah ini diambil untuk mempercepat koordinasi lintas sektor, penyaluran bantuan, serta mobilisasi sumber daya dalam penanganan korban dan pemulihan awal pascabencana.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sigi juga tengah menyiapkan penetapan status darurat selama 14 hari guna memperkuat upaya penanganan di wilayah yang paling terdampak.
Berbagai langkah darurat telah dilakukan, mulai dari pendirian posko dan pos lapangan, distribusi logistik, pelayanan kesehatan darurat, hingga verifikasi data kerusakan dan korban.
Di Kota Palu, tenda darurat telah didirikan di area rumah sakit untuk mendukung pelayanan medis. Pasien yang sebelumnya dievakuasi akibat guncangan gempa juga mulai dipindahkan kembali ke ruang perawatan secara bertahap setelah kondisi dinilai lebih aman.
BNPB Waspadai Gempa Susulan
Di tengah proses penanganan darurat, ancaman gempa susulan masih menjadi perhatian. Berdasarkan pemantauan BMKG hingga Rabu (17/6) pukul 12.17 WITA, telah terjadi 13 kali gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 4,0 hingga 4,2.
BNPB mengimbau masyarakat tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan yang masih mungkin terjadi.
“Masyarakat diharapkan mengikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi,” tegas Abdul Muhari.
BNPB juga mengingatkan warga untuk menghindari bangunan yang mengalami kerusakan hingga dinyatakan aman oleh petugas berwenang. Sementara itu, kebutuhan mendesak di lokasi terdampak saat ini meliputi logistik kebencanaan, terpal untuk menutup bangunan rusak, serta tambahan tenda darurat guna mendukung pelayanan bagi masyarakat, khususnya di fasilitas kesehatan.
Dengan pendataan yang masih berlangsung dan sejumlah wilayah belum sepenuhnya terjangkau, jumlah korban maupun kerusakan akibat gempa Sulawesi Tengah diperkirakan masih dapat bertambah dalam beberapa hari ke depan.


