JAKARTA — Hakim senior Pengadilan Tinggi Seoul, Shin Jong-o, ditemukan tewas di area taman bunga kompleks pengadilan pada Rabu dini hari waktu setempat. Hakim yang memimpin sidang banding mantan ibu negara Korea Selatan, Kim Keon Hee, itu diduga meninggal akibat bunuh diri.
Kematian Shin langsung menyita perhatian publik karena terjadi hanya beberapa hari setelah majelis hakim yang dipimpinnya memperberat hukuman penjara terhadap Kim Keon Hee, istri mantan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol.
Berdasarkan laporan Yonhap News Agency, polisi menerima laporan sekitar tengah malam sebelum akhirnya menemukan Shin di taman bunga kawasan Pengadilan Tinggi Seoul sekitar pukul 01.00 waktu setempat.
Petugas menemukan sebuah surat tulisan tangan di saku korban. Isi surat tersebut berupa permintaan maaf, namun tidak menyinggung perkara hukum ataupun proses persidangan yang tengah ditanganinya.
“Tidak ada tanda-tanda kejahatan dalam kematian tersebut,” ujar seorang penyidik kepolisian seperti dikutip AFP.
Meski demikian, aparat masih mendalami penyebab pasti kematian hakim tersebut. Dugaan sementara mengarah pada aksi bunuh diri setelah korban diduga jatuh dari ketinggian di area kompleks pengadilan.
Polisi Minta Privasi untuk Keluarga
Kepolisian Seoul menyebut pihak keluarga hakim Shin berada dalam kondisi terpukul akibat tragedi tersebut. Aparat meminta masyarakat dan media menghormati privasi keluarga yang sedang berduka.
“Pihak keluarga sangat terpukul atas kejadian ini dan meminta privasi,” kata penyidik kepolisian.
Jenazah Shin sempat dilarikan ke rumah sakit, namun dinyatakan meninggal dunia tidak lama setelah tiba di fasilitas medis.
Kematian hakim senior itu memicu sorotan luas di Korea Selatan, terutama karena terjadi di tengah tingginya tekanan publik terhadap sejumlah perkara besar yang menyeret elite politik negeri tersebut.
Sosok Hakim di Balik Vonis Berat Kim Keon Hee
Nama Shin Jong-o sebelumnya menjadi perhatian nasional setelah memimpin sidang banding Kim Keon Hee di Pengadilan Tinggi Seoul.
Pada putusan banding bulan lalu, majelis hakim memperberat hukuman Kim menjadi empat tahun penjara. Vonis itu naik signifikan dibanding hukuman sebelumnya, yakni 20 bulan penjara yang dijatuhkan pengadilan tingkat pertama pada Januari lalu.
Dalam amar putusan yang disiarkan langsung televisi nasional Korea Selatan, pengadilan menyatakan Kim terbukti terlibat dalam manipulasi harga saham serta menerima hadiah mewah yang berkaitan dengan Gereja Unifikasi.
“Pengadilan menjatuhkan hukuman empat tahun penjara kepada terdakwa dan mengenakan denda 50 juta won,” bunyi putusan Pengadilan Tinggi Seoul.
Jika dikonversi, nilai denda tersebut mencapai sekitar Rp584 juta.
Terlibat Skandal Manipulasi Saham
Dalam persidangan, Kim Keon Hee dinyatakan bersalah atas keterlibatan dalam skema manipulasi saham Deutsch Motors, perusahaan dealer mobil ternama di Korea Selatan.
Majelis hakim menyebut praktik tersebut sebagai bentuk manipulasi pasar yang dilakukan secara kolusif.
Pengadilan menilai tindakan itu memenuhi unsur pelanggaran serius dalam perdagangan saham dan mencederai integritas pasar keuangan Korea Selatan.
Selain kasus saham, Kim juga terseret perkara penerimaan hadiah mewah dari organisasi keagamaan yang kerap disebut memiliki karakteristik menyerupai sekte.
Kasus tersebut menjadi salah satu skandal politik terbesar yang mengguncang pemerintahan mantan Presiden Yoon Suk Yeol sebelum akhirnya ia sendiri ikut dipenjara dalam perkara terpisah.
Tekanan Besar dalam Kasus Politik Korea Selatan
Kematian Shin Jong-o turut memunculkan spekulasi mengenai tekanan besar yang dihadapi aparat penegak hukum Korea Selatan dalam menangani kasus elite politik.
Beberapa tahun terakhir, Korea Selatan memang berkali-kali diguncang skandal korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga manipulasi ekonomi yang menyeret tokoh penting negara.
Kasus Kim Keon Hee menjadi salah satu yang paling menyita perhatian karena melibatkan mantan ibu negara dan berlangsung di tengah polarisasi politik yang tajam.
Meski surat yang ditemukan polisi tidak menyinggung perkara hukum, publik tetap mengaitkan kematian Shin dengan tingginya tekanan psikologis dalam menangani perkara kelas berat tersebut.
Hingga kini, kepolisian Seoul masih melakukan investigasi lanjutan guna memastikan penyebab pasti kematian hakim senior itu.