Sosok Danke Rajagukguk, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karo, kini tengah menjadi pusat perhatian nasional. Bukan hanya karena ditarik paksa ke Jakarta oleh Kejaksaan Agung buntut kasus videografer Amsal Sitepu, namun juga karena data kekayaannya yang terbilang “ajaib”. Di balik seragam cokelatnya, sang jaksa ternyata melaporkan saldo kekayaan yang minus ratusan juta rupiah.
Nama Danke Rajagukguk mendadak viral. Setelah menuai protes keras dari Komisi III DPR RI terkait penanganan kasus korupsi video profil desa, kini giliran laporan harta kekayaannya (LHKPN) yang memancing rasa penasaran publik.
Berdasarkan laporan yang disetor pada 3 Maret 2026, Danke mencatatkan fenomena langka bagi seorang pejabat: kekayaan bersih yang minus Rp 140,4 juta. Angka ini tidak berubah sedikit pun sejak laporan tahun sebelumnya.
Garasi Jadul Senilai Ratusan Juta
Meskipun total saldo akhirnya minus karena beban utang yang menumpuk, Danke tetap memiliki aset fisik yang cukup mencolok. Komponen terbesar hartanya justru ada pada sektor otomotif senilai Rp470 juta. Berikut adalah isi garasi sang Kajari:
-
Suzuki Grand Vitara (Tahun 2000): Mobil SUV legendaris ini ditaksir bernilai Rp240 juta.
-
Mazda2 (Tahun 2010): Hatchback lincah ini dilaporkan bernilai Rp230 juta.
Selain kendaraan, ia juga memiliki tanah dan bangunan senilai Rp192 juta, serta simpanan kas yang hanya menyentuh angka Rp11,1 juta. Namun, daya tarik aset tersebut langsung “tenggelam” oleh catatan utang sebesar Rp818,5 juta.
Logika “Editing Gratis” yang Berujung Pemeriksaan
Penarikan Danke ke Jakarta oleh Kejaksaan Agung sebenarnya dipicu oleh perseteruannya dengan aspek kreatif. Danke adalah sosok di balik tuntutan 2 tahun penjara terhadap Amsal Sitepu. Logikanya sederhana namun kontroversial: ia menganggap biaya editing, cutting, dan dubbing dalam pembuatan video profil desa seharusnya dihargai Rp0 alias gratis.
Argumen ini mentah di tangan hakim. Amsal divonis bebas, dan kini giliran Danke yang harus mempertanggungjawabkan profesionalitasnya di depan tim pemeriksa Kejagung.
“Kajari Karo, Kasipidsus, dan tim JPU sudah ditarik ke Jakarta untuk klarifikasi dan eksaminasi mendalam,” tegas Kapuspenkum Kejagung, Anang Supriatna.
Pemeriksaan intensif ini dilakukan untuk melihat apakah ada unsur intimidasi atau ketidakprofesionalan selama Danke menjabat. Publik kini menunggu, apakah sang jaksa yang hartanya minus ini bisa membuktikan integritasnya, atau justru harus menerima sanksi etik akibat logika hukum yang dianggap “menindas” pekerja kreatif.