Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya penanaman nilai cinta kasih dan toleransi dalam dunia pendidikan.
Hal tersebut disampaikan dalam perayaan Hari Anak Nasional 2025 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu lalu.
Menurut Abdul Mu’ti, pembelajaran nilai tidak harus selalu dituangkan dalam bentuk mata pelajaran, melainkan bisa melalui pendekatan yang lebih alami lewat apa yang disebutnya sebagai hidden curriculum.
Pernyataan itu dilontarkan sebagai respons atas dorongan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, yang meminta pendidikan di Indonesia memperkuat kurikulum berbasis cinta kasih, terutama untuk mencegah masalah seperti perundungan dan konflik akibat perbedaan.
Abdul Mu’ti juga menilai kekerasan di kalangan anak saat ini masih tinggi, baik yang dilakukan oleh anak sebagai pelaku maupun korban.
Ia beranggapan bahwa penanaman nilai melalui pendekatan keseharian dapat menjadi cara yang lebih relevan dan efektif.
Sebagai langkah awal, Abdul Mu’ti menyebut pihaknya mulai menanamkan pendekatan ramah anak dalam kegiatan awal tahun ajaran baru, termasuk masa pengenalan lingkungan sekolah.
Caption | Admin: Raihana