JAKARTA – Pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 berlangsung di tengah cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah Arab Saudi, khususnya di Kota Makkah dan Madinah.
Temperatur udara pada siang hari dilaporkan menembus angka lebih dari 40 derajat Celsius.
Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi para jamaah, terutama mereka yang lanjut usia dan memiliki riwayat penyakit tertentu.
Tingginya suhu udara berdampak langsung terhadap kesehatan jamaah asal Indonesia.
Kementerian Haji dan Umrah mencatat sedikitnya 67 jamaah Indonesia harus mendapatkan perawatan di rumah sakit Arab Saudi akibat gangguan kesehatan yang dipicu cuaca panas dan kelelahan fisik selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
Pemerintah Indonesia melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) terus melakukan pemantauan terhadap kondisi jamaah yang sakit.
Tim kesehatan yang berada di Tanah Suci juga disiagakan untuk memberikan pelayanan medis secara maksimal, baik di klinik kesehatan haji maupun rumah sakit rujukan di Arab Saudi.
Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha, mengatakan jamaah perlu lebih berhati-hati dalam menjaga kondisi fisik selama berada di Tanah Suci.
Menurutnya, suhu panas yang tinggi dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan lebih cepat sehingga risiko dehidrasi dan kelelahan meningkat drastis.
Karena itu, jamaah diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya pada siang hari saat cuaca mencapai puncak panas.
Selain faktor cuaca, aktivitas ibadah yang cukup padat juga menjadi penyebab menurunnya kondisi kesehatan jamaah.
Banyak jamaah tetap memaksakan diri untuk menjalankan ibadah sunnah di tengah suhu terik, padahal tubuh membutuhkan waktu istirahat yang cukup.
Kondisi ini dinilai dapat memperparah gangguan kesehatan, terutama bagi jamaah lansia.
Petugas kesehatan haji mengimbau jamaah agar rutin mengonsumsi air putih dan tidak menunggu rasa haus datang terlebih dahulu.
Penggunaan payung, masker, serta pelindung kepala juga dianjurkan untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari.
Jamaah diminta memakai alas kaki ketika berjalan di area terbuka karena suhu permukaan jalan di sekitar Masjidil Haram dapat menjadi sangat panas pada siang hari.
Tim medis juga meminta jamaah segera melapor jika mengalami gejala seperti pusing, mual, sesak napas, nyeri dada, atau demam tinggi.
Penanganan cepat dianggap penting untuk mencegah kondisi kesehatan berkembang menjadi lebih serius seperti heatstroke atau gangguan organ akibat dehidrasi berat.
Menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, pemerintah memperketat pengawasan terhadap kesehatan jamaah.
Tahapan Armuzna dikenal sebagai fase paling menguras tenaga karena jamaah harus melakukan mobilitas tinggi dalam waktu yang relatif singkat.
Oleh sebab itu, jamaah diimbau menyimpan energi dan memprioritaskan pelaksanaan ibadah wajib dibanding aktivitas tambahan yang berisiko menyebabkan kelelahan.
Di sisi lain, pemerintah memastikan pelayanan kesehatan bagi jamaah Indonesia tetap berjalan optimal.
Petugas kesehatan disebar di berbagai titik untuk memantau kondisi jamaah secara berkala.
Pendampingan khusus juga diberikan kepada jamaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit bawaan.
Cuaca panas ekstrem di Arab Saudi sendiri menjadi perhatian dalam beberapa tahun terakhir.
Perubahan iklim global disebut menyebabkan suhu di kawasan Timur Tengah meningkat cukup signifikan, terutama saat musim panas.
Kondisi tersebut membuat pemerintah Arab Saudi bersama negara pengirim jamaah terus meningkatkan langkah antisipasi guna mengurangi risiko gangguan kesehatan selama musim haji berlangsung.
Selain kasus jamaah sakit, laporan terbaru juga menyebutkan adanya jamaah Indonesia yang meninggal dunia selama pelaksanaan haji tahun ini.
Sebagian besar kasus berkaitan dengan penyakit jantung, gangguan pernapasan, dan kondisi tubuh yang menurun akibat kelelahan serta suhu panas tinggi.
Pemerintah berharap seluruh jamaah lebih disiplin menjaga kesehatan agar dapat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah dengan aman.
Pola istirahat yang cukup, asupan cairan yang terjaga, serta pembatasan aktivitas berat di bawah sinar matahari menjadi langkah penting untuk menghindari gangguan kesehatan selama berada di Tanah Suci.
Sementara itu, keluarga jamaah di Indonesia diminta tidak khawatir berlebihan karena kondisi jamaah terus dipantau oleh petugas haji dan tim kesehatan yang bertugas selama 24 jam.
Pemerintah memastikan setiap jamaah yang membutuhkan penanganan medis akan mendapatkan pelayanan sesuai prosedur yang berlaku. (FB)