MAKKAH, ARAB SAUDI – Ribuan jemaah haji dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, memadati Muzdalifah malam ini untuk melaksanakan mabit (bermalam) setelah wukuf di Arafah. Malam yang penuh kekhusyukan ini menjadi momen utama memanjatkan doa-doa mustajab, terutama Doa Sapu Jagad dan doa Rasulullah SAW, sebagai bentuk puncak kepasrahan kepada Allah SWT.
Sesuai tuntunan syariat, setelah bertolak dari Arafah, jemaah menginap di Muzdalifah sekaligus mengumpulkan kerikil untuk melontar jumrah di Mina esok hari. Meski sebagian ulama membolehkan skema *murur* (hanya melintas sebentar), mayoritas jemaah memilih memanfaatkan waktu di lokasi suci ini untuk memperbanyak zikir dan doa.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 198:
فَإِذَآ أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَٰتٍ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ عِندَ ٱلْمَشْعَرِ ٱلْحَرَامِ
Artinya: “Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy‘aril Haram.” (QS. Al-Baqarah: 198)
Ayat tersebut menjadi dasar utama mengapa Muzdalifah, yang termasuk dalam kawasan Masy’aril Haram, menjadi tempat yang sangat dimuliakan.
Makna Historis dan Spiritual Muzdalifah
Menurut penjelasan Majelis Ulama Indonesia, secara etimologi, Muzdalifah berasal dari kata *al-izdilaf* yang berarti tempat berkumpul atau bertemu. Riwayat menyebutkan bahwa lokasi ini adalah tempat Nabi Adam AS dan Sayyidatuna Hawa dipertemukan kembali setelah diturunkan ke bumi.
Malam 10 Dzulhijjah di Muzdalifah pun menjadi momentum emas bagi jemaah untuk introspeksi, memperbanyak zikir, merenung, serta memanjatkan berbagai doa kebaikan.
Doa Sapu Jagad: Doa Terlengkap yang Dianjurkan di Muzdalifah
Salah satu doa utama yang sangat dianjurkan dibaca saat mabit di Muzdalifah adalah **Doa Sapu Jagad**. Doa ini lahir sebagai koreksi ilahi atas kebiasaan doa masyarakat Jahiliyyah yang hanya berorientasi pada kenikmatan duniawi semata, seperti meminta unta, kambing, dan harta berlimpah.
Dalam kitab *Ad-Du’a* karya Imam Thabrani disebutkan doa tersebut:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Doa yang ringkas namun padat ini dianggap mencakup seluruh kebaikan. Para mufassir menjelaskan bahwa “kebaikan di dunia” mencakup rezeki halal, ilmu bermanfaat, kesehatan, keluarga saleh, dan keberkahan hidup. Sedangkan “kebaikan di akhirat” meliputi ampunan dosa, kemudahan hisab, serta ganjaran surga yang abadi.
Doa Rasulullah SAW: Puncak Ketundukan di Muzdalifah
Selain Doa Sapu Jagad, jemaah juga dianjurkan membaca doa yang pernah dipanjatkan Rasulullah SAW pada Hari Nahr. Para ulama menilai waktu mabit di Muzdalifah sangat tepat untuk mengamalkannya karena masih dalam lingkup hari raya Idul Adha.
Doa Rasulullah SAW yang agung itu berbunyi:
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ فَاكْفِنِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus seluruh makhluk, tiada Tuhan selain Engkau. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Maka cukupilah seluruh urusanku dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (HR Thabrani)
Doa ini merepresentasikan puncak kepasrahan seorang hamba. Meskipun Nabi Muhammad SAW sudah ma’shum (terjaga dari dosa), beliau tetap memohon agar tidak diserahkan kepada nafsu dirinya sendiri walau hanya sekejap. Hal ini semakin menegaskan betapa pentingnya doa tersebut bagi umat biasa.
Pesan bagi Jemaah Haji Indonesia
Di tengah kepadatan jemaah dan cuaca ekstrem, para pembimbing haji mengingatkan agar jemaah tidak hanya sibuk mengumpulkan kerikil, tetapi lebih memprioritaskan kualitas doa dan zikir di Muzdalifah. Malam ini menjadi kesempatan langka untuk memohon kebaikan dunia dan akhirat sekaligus perlindungan dari azab neraka.
Dengan khusyuk memanjatkan doa-doa mustajab tersebut, diharapkan seluruh jemaah mendapatkan haji mabrur yang penuh berkah.