JAKARTA – Performa Cristiano Ronaldo kembali menjadi sorotan setelah Portugal gagal meraih kemenangan pada laga pembuka Piala Dunia 2026.
Tim berjuluk Selecao das Quinas hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan Republik Demokratik Kongo meski tampil dominan sepanjang pertandingan.
Hasil tersebut memunculkan kembali perdebatan mengenai peran Ronaldo yang kini berusia 41 tahun dan masih dipercaya sebagai kapten tim nasional Portugal.
Portugal menguasai jalannya pertandingan dengan mencatat lebih dari 720 operan sepanjang laga.
Namun dominasi tersebut tidak berbanding lurus dengan efektivitas serangan karena Portugal hanya mampu menghasilkan satu tembakan tepat sasaran.
Ronaldo yang mencatat sejarah sebagai pemain non-kiper tertua di ajang Piala Dunia juga gagal menciptakan satu pun tembakan selama pertandingan berlangsung.
Catatan tersebut memperpanjang paceklik gol Ronaldo di turnamen besar internasional menjadi 10 pertandingan beruntun sejak Piala Dunia 2022.
Situasi itu memicu kritik dari sejumlah pengamat sepak bola yang menilai keberadaan Ronaldo mulai memengaruhi keseimbangan permainan Portugal.
Legenda sepak bola Prancis Thierry Henry bahkan sempat mengisyaratkan bahwa Portugal mungkin akan bermain lebih lepas tanpa ketergantungan terhadap sang megabintang.
Meski demikian, pelatih Roberto Martinez dan para pemain Portugal kompak menolak anggapan tersebut.
Gelandang muda Portugal, Francisco Conceicao, menjadi pemain terbaru yang memberikan pembelaan terbuka terhadap Ronaldo.
Menurut Conceicao, Portugal tidak memiliki kewajiban untuk selalu mengarahkan bola kepada Ronaldo hanya karena statusnya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa.
“Bagi saya tidak ada pemain lain yang memiliki kualitas mencetak gol seperti Cristiano Ronaldo.”
“Namun kami tidak memiliki kewajiban untuk selalu memberikan bola kepadanya.”
“Saya mengoper kepada siapa pun yang berada dalam posisi terbaik dan bebas dari penjagaan lawan,” ujar Conceicao seperti dikutip Athlon Sports.
Pernyataan tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa para pemain Portugal sengaja berusaha memenuhi ambisi pribadi Ronaldo di lapangan.
Meski kecepatan dan daya ledak Ronaldo tidak lagi seperti masa jayanya, pengaruhnya tetap terasa dalam pola permainan lawan.
Kehadiran mantan bintang Manchester United, Real Madrid, Juventus, dan Al Nassr itu masih memaksa lini pertahanan lawan memberikan perhatian ekstra.
Kondisi tersebut sering kali menciptakan ruang kosong yang dapat dimanfaatkan rekan-rekan setimnya untuk menyerang.
Bagi Portugal, memberikan bola kepada Ronaldo bukan semata karena faktor nama besar atau warisan kariernya.
Ronaldo masih dianggap memiliki insting mencetak gol, kemampuan membaca permainan, serta penempatan posisi yang sangat berbahaya di area penalti.
Sepanjang kariernya, Ronaldo berkali-kali menghadapi keraguan serupa ketika membela Manchester United, Real Madrid, Juventus hingga Al Nassr.
Namun pemain yang telah mengoleksi ratusan gol tersebut hampir selalu mampu menjawab kritik melalui performanya di lapangan.
Portugal kini mengalihkan fokus ke pertandingan kedua fase grup menghadapi Uzbekistan.
Laga tersebut menjadi kesempatan berikutnya bagi Ronaldo untuk membuktikan bahwa dirinya masih mampu memberikan kontribusi besar bagi negaranya di panggung sepak bola dunia.***