JATENG – Gelombang panas ekstrem yang menerpa Kota Solo, Jawa Tengah, sejak awal pekan ini memaksa warga berjuang menahan derita di bawah terik matahari yang tak kenal ampun.
Suhu udara yang menyentuh puncak 36 derajat Celsius membuat aktivitas sehari-hari terasa melelahkan, sementara debu jalanan semakin mengganggu pernapasan pengendara dan pejalan kaki.
Sebagai respons cepat, Polresta Solo meluncurkan operasi penyemprotan air inovatif menggunakan water cannon, mengubah alat pengendali massa menjadi penyelamat kesegaran urban.
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak suhu panas di wilayah Jawa Tengah terjadi pada Rabu (9/10/2025), jauh di atas rata-rata bulanan yang biasanya lebih nyaman.
Kondisi ini bukan hanya mengganggu rutinitas warga, tapi juga memicu keluhan massal tentang ketidaknyamanan beraktivitas di luar ruangan, terutama di pusat kota yang ramai.
Cuaca panas ekstrem seperti ini, yang diprediksi berlanjut hingga akhir minggu, menuntut langkah-langkah adaptasi darurat dari pihak berwenang untuk menjaga kesehatan masyarakat.
Dalam aksi yang digelar pada Rabu (15/10/2025), dua unit water cannon—satu milik Polresta Solo dan satu lagi dari Brimob Batalyon C Solo beraksi di ruas-ruas utama seperti Jalan Slamet Riyadi.
Kendaraan berat ini melaju pelan sambil menyemburkan air ke kanan-kiri jalan, menciptakan kabut penyegar yang langsung meredakan panas siang hari.
Semburan air yang bercampur hembusan angin memberikan efek pendingin instan, sekaligus membersihkan debu tebal yang menumpuk akibat kekeringan.
Operasi ini dirancang berlangsung selama tujuh hari ke depan, menargetkan area protokol dan titik-titik ramai untuk memaksimalkan dampaknya.
Kasat Samapta Polresta Solo, Kompol Edi Sukamto, menjelaskan inisiatif ini sebagai bentuk solidaritas polisi terhadap warga.
“Penyemprotan menggunakan dua mobil water cannon akan dilakukan sampai tujuh hari ke depan,” ujar Kompol Edi, Rabu (15/10/2025), usai kegiatan penyemprotan.
Ia menambahkan, “Karena cuaca di Kota Solo dan sekitarnya sangat panas, penyemprotan dilakukan di jalan-jalan protokol serta wilayah lain yang ramai aktivitas,” jelasnya.
“Tujuannya untuk membersihkan debu sekaligus mengurangi suhu panas di Kota Solo,” tambahnya.
Langkah kreatif ini langsung menuai apresiasi dari masyarakat. Banyak pengendara motor dan mobil yang melintas tampak kegirangan, bahkan melambaikan tangan saat cipratan air menyentuh mereka.
Tak hanya meredakan panas, penyemprotan juga membantu mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat debu halus, yang kerap memburuk di musim kering seperti sekarang.
BMKG sendiri memperingatkan bahwa pola cuaca panas ini dipengaruhi perubahan iklim, dengan potensi gelombang panas serupa di wilayah lain Jawa Tengah hingga akhir Oktober 2025.
Upaya Polresta Solo ini menjadi contoh adaptasi cepat dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem, mengingatkan betapa pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk mitigasi dampak perubahan iklim.
Warga disarankan tetap hidrasi dan hindari aktivitas luar ruangan di jam puncak panas, sambil menantikan kelanjutan operasi pendingin jalan ini.
Untuk tips menghadapi cuaca panas ekstrem di Solo dan Jawa Tengah, simak panduan lengkap di Suhu Panas Landa Indonesia, Capai 37,6 Derajat Celsius pada 14 Oktober.
