JAKARTA – Kantor kepresidenan Suriah pada Sabtu (19/7/2025), mengumumkan gencatan senjata komprehensif menyusul kerusuhan selama beberapa hari di provinsi selatan Suwaida. Langkah ini diambil untuk meredakan eskalasi konflik yang dipicu bentrokan antar-komunal dan serangan udara lintas batas.
Dalam pernyataan resminya, kantor kepresidenan menyerukan agar semua pihak “sepenuhnya mematuhi keputusan ini, dan segera menghentikan semua operasi tempur di semua wilayah, memastikan perlindungan bagi warga sipil, dan menjamin pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.”
Pemerintah memperingatkan bahwa “setiap pelanggaran terhadap keputusan ini akan dianggap sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan nasional dan akan ditindak dengan tindakan hukum yang diperlukan sesuai dengan konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Pihak berwenang juga menekankan pentingnya dukungan terhadap institusi negara dalam pelaksanaan gencatan senjata. “Memberikan ruang bagi negara Suriah, lembaga-lembaganya, dan pasukannya untuk menerapkan gencatan senjata ini secara bertanggung jawab, demi memastikan stabilitas dan mengakhiri pertumpahan darah,” bunyi pernyataan.
Kerusuhan bermula pada 13 Juli ketika bentrokan terjadi antara suku Arab Badui dan kelompok bersenjata Druze di wilayah Suwaida. Ketegangan meningkat dengan keterlibatan militer Israel yang meluncurkan serangan udara ke Damaskus dengan dalih “melindungi komunitas Druze.”
Upaya diplomatik turut menguat setelah Duta Besar AS untuk Ankara, Tom Barrack, mengonfirmasi bahwa Israel dan Suriah telah mencapai kesepakatan gencatan senjata.
“Perdana Menteri Israel @Netanyahu dan Presiden Suriah @SyPresidency yang didukung oleh @SecRubio AS telah menyepakati gencatan senjata yang didukung oleh Turki, Yordania, dan negara-negara tetangganya,” ujar Barrack di X pada Jumat malam.
“Kami menyerukan kepada kelompok masyarakat Druze, Badui, dan Sunni untuk meletakkan senjata mereka dan bersama-sama dengan minoritas lainnya membangun identitas Suriah yang baru dan bersatu. Kami mendesak semua warga Suriah untuk saling menghormati dan hidup dalam damai dan sejahtera dengan tetangga mereka,” imbuhnya.
Gencatan senjata ini terjadi di tengah transisi politik besar di Suriah. Presiden Bashar al-Assad, yang memimpin sejak 2000, dilaporkan melarikan diri ke Rusia pada Desember, mengakhiri era panjang kepemimpinan Partai Baath. Pemerintah transisi kini dikomandoi oleh Presiden Ahmad al-Sharaa, yang mulai menjabat sejak Januari.