Suhu udara di Seoul anjlok hingga -9°C pada Senin (12/1/2026), memicu kondisi membeku di hampir seluruh wilayah Korea Selatan. Otoritas meteorologi juga memperingatkan potensi salju lebat, terutama di kawasan tengah negara tersebut.
Mengutip Chosun Daily, Korea Meteorological Administration (KMA) menjelaskan bahwa gelombang udara dingin berasal dari sistem tekanan tinggi benua yang bergerak dari China utara ke arah tenggara. Pergerakan ini memicu penurunan suhu tajam di berbagai wilayah sejak 12 Januari.
KMA memprakirakan suhu minimum pagi hari berada di kisaran -14 hingga -3°C, sementara suhu maksimum siang hari hanya mencapai 0 hingga 10°C. Namun, suhu yang dirasakan diperkirakan 1–2 derajat lebih rendah akibat hembusan angin dingin.
Peringatan Dingin Ekstrem dan Ancaman Salju
Peringatan gelombang dingin diberlakukan di sebagian wilayah Seoul Metropolitan Area, Gangwon, Jeolla Utara, dan Gyeongsang Utara. Sementara itu, peringatan dingin ekstrem—yakni suhu di bawah -15°C selama dua hari berturut-turut—dikeluarkan untuk sejumlah wilayah di Provinsi Gangwon.
Salju diperkirakan turun pada 12–13 Januari di wilayah tengah, dengan ketebalan yang bervariasi. Beberapa daerah juga berpotensi mengalami hujan ringan dengan curah sekitar 1–5 mm.
Angin Kencang Masih Mengintai Jeju
Meski angin kencang di sebagian besar wilayah mulai mereda, Pulau Jeju masih berisiko mengalami hembusan angin hingga 95 km/jam hingga dini hari 12 Januari. Kecepatan ini setara angin badai tingkat sedang dan berpotensi merusak atap bangunan serta papan reklame.
Suhu Diprediksi Naik-Turun Ekstrem Pekan Ini
KMA memperingatkan bahwa sepanjang pekan ini Korea Selatan akan menghadapi fluktuasi suhu yang ekstrem. Setelah penurunan tajam akibat gelombang dingin, pergerakan sistem tekanan tinggi diperkirakan memicu kenaikan suhu secara mendadak.
Perbedaan suhu harian bisa mencapai 5–10 derajat Celsius, sehingga status peringatan gelombang dingin kemungkinan akan sering diberlakukan dan dicabut dalam waktu singkat.
Masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas luar ruangan, mengenakan pakaian berlapis, serta terus memantau pembaruan cuaca guna menghindari risiko hipotermia, kecelakaan akibat salju licin, dan angin kencang.