JAKARTA – Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel pada Selasa, menurut militer Israel. Serangan ini terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyebut adanya “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” untuk menghentikan konflik yang meluas di Timur Tengah.
Tiga pejabat senior Israel yang enggan disebutkan namanya menilai Trump tampak bertekad mencapai kesepakatan, namun mereka meragukan Iran akan menerima tuntutan AS dalam putaran negosiasi baru.
Meski Trump menyampaikan optimismenya di Truth Social, Iran menegaskan belum ada pembicaraan. Kedutaan Iran di Afrika Selatan bahkan mengunggah gambar di X yang seolah mengejek gagasan Trump bahwa ia bisa mengendalikan Selat Hormuz bersama Pemimpin Tertinggi Iran.
Dilansir dari Reuters, Selasa (24/3/2026), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang berbicara dengan Trump kurang dari dua hari sebelum pecahnya perang, dijadwalkan menggelar rapat keamanan untuk membahas upaya diplomasi tersebut.
Sementara itu, seorang pejabat Pakistan menyebut kemungkinan adanya pembicaraan langsung di Islamabad pekan ini.
AS dan Israel sebelumnya melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari setelah menilai negosiasi nuklir tidak menunjukkan kemajuan berarti, meski mediator Oman menyebut ada perkembangan signifikan.
Krisis kini meluas: Iran menyerang pangkalan AS di kawasan, menargetkan infrastruktur energi, dan menutup Selat Hormuz—jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Sirine serangan udara berbunyi di Tel Aviv pada Selasa, ketika rudal Iran menghantam kota terbesar Israel. Lubang besar terlihat di salah satu gedung apartemen, meski belum jelas apakah akibat hantaman langsung atau puing pencegatan. Tim penyelamat Israel mengevakuasi warga dari gedung-gedung yang rusak.
Militer Israel mengklaim telah melancarkan serangan besar ke pusat komando di Tehran, termasuk fasilitas intelijen IRGC dan Kementerian Intelijen, serta menghantam lebih dari 50 target lain. Ledakan terdengar di berbagai wilayah ibu kota Iran, menurut kantor berita Nournews.
Trump mengatakan ia menunda rencana menyerang pembangkit listrik Iran selama lima hari, kecuali Iran membuka kembali Selat Hormuz. Iran menegaskan akan membalas dengan menyerang infrastruktur sekutu AS di kawasan.
Langkah mundur Trump sempat menenangkan pasar: harga saham naik, minyak turun di bawah 100 dolar per barel. Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan, “Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari lumpur di mana AS dan Israel terjebak.”
Meski Kementerian Luar Negeri Iran menyebut ada inisiatif meredakan ketegangan, pasar kembali bergejolak. Brent naik di atas 100 dolar per barel, sementara minyak mentah AS melonjak 4,3% menjadi 91,93 dolar.
“Situasi mendasarnya masih sangat rapuh dan mudah terbakar,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore.
Trump menambahkan bahwa utusan khususnya Steve Witkoff dan Jared Kushner telah berbicara dengan pejabat Iran hingga Minggu malam. Seorang pejabat Eropa menyebut Mesir, Pakistan, dan negara Teluk berperan menyampaikan pesan.
Pejabat Pakistan mengatakan Wakil Presiden AS JD Vance, Witkoff, dan Kushner dijadwalkan bertemu pejabat Iran di Islamabad pekan ini, menyusul panggilan telepon Trump dengan Kepala Angkatan Bersenjata Pakistan Asim Munir. Gedung Putih mengonfirmasi panggilan tersebut, sementara kantor Perdana Menteri Pakistan belum memberi komentar.