Tim Formula 1 Mercedes secara jantan pasang badan dan mengaku bertanggung jawab penuh atas kekacauan di dalam pit stop yang menghancurkan balapan George Russell di GP Monako. Akibat rentetan penalti, pembalap asal Inggris tersebut harus pulang dengan tangan hampa dari sirkuit jalan raya Monte Carlo.
Kegagalan meraih poin ini membuat posisi Russell tertahan di peringkat ketiga klasemen sementara F1 2026, kini ia tertinggal jauh 68 poin dari rekan setim sekaligus rival utamanya dalam perebutan gelar juara dunia, Andrea Kimi Antonelli.
Kronologi Petaka Sanksi Beruntun
Pembalap berusia 28 tahun itu awalnya dijatuhi hukuman penalti 5 detik karena kedapatan mengebut di dalam pembatas kecepatan pit lane (pit lane speeding). Sialnya, hukuman tersebut justru berubah menjadi mimpi buruk yang jauh lebih besar.
Saat safety car keluar di akhir-akhir balapan, Russell masuk ke dalam pit. Alih-alih mendiamkan mobil selama 5 detik untuk memenuhi hukuman, kru mekanik Mercedes justru langsung menyentuh dan mengganti ban mobil Russell. Akibat kelalaian fatal melanggar prosedur penalti ini, FIA langsung meningkatkan hukumannya menjadi sanksi berat: Drive-Through Penalty.
Akibatnya, Russell yang sejatinya punya peluang besar finis di posisi lima besar, melorot drastis keluar dari zona poin dan harus puas terlempar ke peringkat 13 di akhir balapan.
Bos Mercedes Angkat Tangan: “Jelas Ini Kesalahan Kami”
Bos Besar Mercedes, Toto Wolff, tidak mencari kambing hitam dan mengakui bahwa kegagalan menjalankan prosedur penalti tersebut murni merupakan kelalaian dari sisi internal tim.
“Jelas ini kesalahan kami. Kami perlu mengevaluasi kembali sistem komunikasi kami, apakah kami sebenarnya benar-benar mengharapkan dia masuk pit atau tidak, karena seingat saya instruksinya adalah tetap bertahan di lintasan (stay out). Namun terlepas dari itu, Anda harus sigap untuk menahannya di pit box, dan kami gagal melakukannya,” ungkap Toto Wolff kepada media.
Curhat Frustrasi George Russell: Kalah Gara-Gara Kebingungan Menit Akhir
Russell sendiri mengaku berada di fase “luar biasa frustrasi” setelah akhir pekan yang berubah menjadi horor. Menurutnya, situasi di atas sirkuit saat menit-menit akhir memang sangat membingungkan.
“Saya terkena drive-through karena ada banyak kebingungan di menit-menit akhir. Saya seharusnya bertahan di lintasan, tetapi kemudian FIA mengarahkan mobil-mobil untuk melewati pit lane,” papar Russell.
“Saya sempat bertanya berkali-kali kepada tim lewat radio, ‘Apakah saya berhenti untuk ganti ban atau tidak?’. Saya tidak mendapat jawaban, tapi dari kokpit saya melihat kru sudah menyiapkan ban di sana. Semua terjadi terlalu cepat dan mekanik tampaknya tidak menerima pesan bahwa mereka harus mendiamkan mobil dulu selama 5 detik.”
Ironisnya, Russell sempat menawarkan opsi darurat untuk mengambil penalti tersebut di lap berikutnya karena ia memiliki jarak aman 20 detik dari Pierre Gasly di belakangnya. Namun, regulasi FIA tetap menyatakan bahwa Mercedes telah gagal mengeksekusi penalti pertama dengan benar.
“Dengan glitch pada perangkat lunak, saya mungkin hanya mendapat keuntungan seperseratus detik di pit lane, tetapi dampaknya saya harus kehilangan 13 posisi di akhir balapan,” keluh Russell gusar.
Rekaman Radio: Mercedes Sempat Merasa “Aman”
Berdasarkan bocoran transkrip komunikasi radio antara Russell dan tim, terungkap bahwa insinyur balap Mercedes sebenarnya meyakini mereka telah mengeksekusi penalti 5 detik tersebut secara sah.
-
George Russell: “Jika kita melewati pit lane, pertimbangkan apakah saya punya jarak yang cukup untuk melakukan stop-and-go. Yang 5 detik itu.”
-
Marcus Dudley (Insinyur Balap): “Mobil kita tadi diam berhenti lebih dari 5 detik, George. Jadi kita tunggu saja pembaruan dari Race Control.”
-
George Russell: “Tanyakan saja apakah Kimi bisa menjaga jarak kecepatannya, saya punya ruang di belakang untuk melakukannya.”
-
Marcus Dudley: “Kita akan melewati pit lane.”
-
George Russell: “Apakah kamu menyalin (paham) apa yang saya katakan di sini, kawan?”
-
Marcus Dudley: “Ya, saya paham. Saya menyalinnya.”
Namun, pengawas balapan (stewards) FIA memiliki catatan sensor yang berbeda dari klaim Mercedes. Sentuhan mekanik pada mobil sebelum detektor waktu penalti selesai berputar tetap dinyatakan ilegal, dan impian Russell merengkuh podium di Monako pun resmi kandas.



