Dua hari menjelang upacara pembukaan Piala Dunia FIFA 2026, ketegangan hebat justru melanda kota tuan rumah. Ribuan demonstran nekat memblokir jalan raya utama yang menjadi akses tunggal menuju Stadion Azteca di Mexico City pada Selasa waktu setempat.
Aksi blokade yang berlangsung mencekam selama tiga jam tersebut mempertegas jurang konflik yang kian meruncing antara serikat guru yang mogok kerja dengan pemerintahan Presiden Claudia Sheinbaum. Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi Meksiko yang tengah bersiap menyambut perhelatan olahraga terbesar di bumi.
Tuntutan Ekstrem Serikat Guru: Dari Pendobrakan hingga Temuan Bom
Aksi mogok kerja nasional ini dikomandoi oleh faksi sempalan serikat guru CNTE yang telah bergerak sejak 1 Juni lalu. Mereka menuntut dua hal krusial: kenaikan gaji sebesar 100% dan pembatalan undang-undang pensiun tahun 2007.
Guna mencegah massa merangsek masuk ke area steril FIFA, pihak berwenang terpaksa mendirikan barikade beton kokoh sejauh satu kilometer dari Stadion Azteca. Eskalasi ini merupakan puncak dari kerusuhan yang telah meletus selama berminggu-minggu di ibu kota.
Para guru nekat menduduki Zocalo, alun-alun pusat kota yang sejatinya telah disulap menjadi zona nonton bareng (Fan Zone) Piala Dunia. Massa sempat merobohkan patung-patung raksasa pemain sepak bola di bulevar Paseo de la Reforma, serta menyerbu kantor Kementerian Pendidikan menggunakan tiang lampu jalan sebagai alat pendobrak.
Yang paling mengerikan, Kementerian Dalam Negeri melaporkan pihak kepolisian berhasil menyita 59 bahan peledak yang disembunyikan di dalam bus pengangkut massa demonstran.
“Plan Kukulkan”: Pengerahan 100.000 Aparat Militer
Meskipun situasi di luar stadion sangat memanas, Presiden Claudia Sheinbaum mencoba menenangkan kepanikan publik dunia. Ia menjamin bahwa pertandingan pembuka akan tetap berjalan aman dan sesuai jadwal. Sheinbaum juga menegaskan bahwa pemerintahannya akan mengedepankan pendekatan persuasif tanpa represi militer.
Sebagai pembuktian, Meksiko langsung mengaktifkan operasi keamanan super-ketat berkode “Plan Kukulkan”. Rencana pengamanan raksasa ini mengerahkan total 100.000 personel keamanan, yang terdiri dari 20.000 Anggota Militer (Tentara), 55.000 Petugas Kepolisian. Sisanya merupakan personel gabungan yang disebar di seluruh kota penyelenggara.
Ancaman Nyata di Hari Pembukaan: Sektor Swasta Rugi Besar
Meski dijaga ketat oleh ratusan ribu tentara, ancaman pembajakan momentum belum usai. Pihak CNTE telah menyerukan aksi demonstrasi susulan yang jauh lebih besar tepat pada hari Kamis (11/6/2026)—hari di mana upacara pembukaan dan laga pembuka antara Meksiko vs Afrika Selatan digelar.
Tak sendiri, aliansi keluarga dari 130.000 orang hilang di Meksiko juga berjanji akan turun ke jalan. Mereka sengaja memanfaatkan kehadiran ribuan jurnalis internasional agar isu kemanusiaan mereka mendapat sorotan global. Akibat gelombang protes yang tak kunjung usai ini, Kamar Dagang Kota Meksiko memperkirakan sektor swasta telah menderita kerugian raksasa mencapai €20 juta (sekitar Rp350 miliar).
Sesuai rencana, upacara pembukaan Piala Dunia 2026 yang akan dimeriahkan oleh penampilan diva pop Shakira dan bintang Afrobeats Burna Boy tetap dijadwalkan berlangsung Kamis sore waktu setempat di Stadion Azteca—stadion bersejarah yang mencetak rekor sebagai satu-satunya venue di dunia yang menggelar tiga kali upacara pembukaan Piala Dunia (1970, 1986, dan 2026).