JAKARTA – Hari ke-10 Piala Dunia 2026 menghadirkan beragam cerita menarik yang semakin mempertegas peta persaingan menuju fase gugur.
Jepang dan Belanda tampil semakin meyakinkan sebagai penantang serius gelar juara dunia setelah menunjukkan performa konsisten sepanjang fase grup.
Di sisi lain, Curaçao sukses menciptakan sejarah baru dengan meraih poin pertamanya di ajang Piala Dunia, sementara Tunisia justru semakin terpuruk dan mendapat sorotan tajam setelah kembali tampil mengecewakan.
Curaçao Ukir Sejarah dan Menginspirasi Dunia
Curaçao menjadi salah satu kisah paling menyentuh dalam turnamen tahun ini.
Negara kecil berpenduduk sekitar 158 ribu jiwa itu sebelumnya sudah mencuri perhatian setelah mampu membobol gawang Jerman yang merupakan empat kali juara dunia.
Namun pencapaian mereka semakin luar biasa ketika berhasil menahan imbang Ekuador yang dikenal memiliki salah satu pertahanan terbaik di kompetisi ini.
Kiper veteran Eloy Room menjadi sosok sentral dalam keberhasilan tersebut setelah mencatat rekor penyelamatan terbanyak dalam waktu normal pada satu pertandingan Piala Dunia.
Keberhasilan itu terasa semakin emosional karena tim Curaçao juga mengenang mendiang penjaga gawang Jairzinho yang telah meninggal dunia tujuh tahun lalu.
“Kami bermain untuk sejarah, untuk negara kami, dan untuk mereka yang sudah tidak bersama kami lagi,” demikian dikutip Newsweek.
Hasil tersebut menjadi bukti bahwa semangat juang mampu menembus batas perbedaan kualitas dan pengalaman.
Format Baru Piala Dunia Mulai Dipertanyakan
Meski format 48 tim dinilai menghadirkan lebih banyak kejutan, sejumlah pihak mulai mempertanyakan potensi ketimpangan jalur menuju babak gugur.
Belanda berpeluang menjadi juara grup yang dihuni Jepang dan Swedia, tetapi kemungkinan harus langsung menghadapi Maroko yang merupakan semifinalis edisi sebelumnya di babak 32 besar.
Situasi serupa juga bisa dialami Brasil yang berpotensi berhadapan dengan Jepang lebih cepat dari perkiraan.
Jika skenario tersebut terjadi, beberapa tim terbaik turnamen justru akan saling menyingkirkan sejak awal fase gugur.
Kondisi itu dinilai dapat mengurangi peluang publik menyaksikan duel para kandidat juara di fase-fase akhir kompetisi.
Deniz Undav Jadi Penyelamat Jerman
Timnas Jerman sempat berada dalam tekanan saat menghadapi Pantai Gading.
Permainan Die Mannschaft terlihat buntu dan minim kreativitas sepanjang babak pertama.
Namun segalanya berubah setelah Deniz Undav masuk dari bangku cadangan.
Striker tersebut berhasil mencetak gol penyeimbang yang menghidupkan kembali permainan Jerman.
Undav kemudian mencetak gol kemenangan pada menit-menit akhir yang memastikan Jerman mengamankan tiga poin sekaligus posisi puncak klasemen grup.
Keberhasilan itu menjadi angin segar bagi Jerman yang gagal lolos dari fase grup dalam dua edisi Piala Dunia sebelumnya.
Kini mereka dapat menghadapi laga terakhir melawan Ekuador dengan lebih tenang karena tiket ke babak berikutnya sudah berada di tangan.
Tunisia Kian Dekat dengan Status Tim Terburuk Turnamen
Nasib berbeda justru dialami Tunisia yang terus menjadi sorotan negatif sepanjang turnamen.
Setelah dihancurkan Swedia dengan skor 1-5 pada pertandingan pembuka, federasi sepak bola Tunisia langsung mengambil langkah drastis dengan memecat pelatih Sabri Lamouchi.
Posisi tersebut kemudian diberikan kepada pelatih berpengalaman Herve Renard yang sebelumnya pernah menangani Arab Saudi, Pantai Gading, dan Maroko.
Harapan muncul bahwa pergantian pelatih dapat membawa perubahan cepat.
Namun kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik.
Tunisia kembali menelan kekalahan telak 0-4 dari Jepang dalam pertandingan yang berlangsung sangat berat sebelah.
Sepanjang laga, tim Afrika Utara tersebut nyaris tidak mampu menciptakan ancaman berarti ke pertahanan Jepang.
Kekalahan itu memperlihatkan hilangnya identitas permainan, minim kreativitas, serta rendahnya daya juang yang menjadi masalah utama Tunisia saat ini.
Banyak pengamat menilai secara kualitas individu masih ada tim yang lebih lemah dalam sejarah Piala Dunia.
Namun dari segi organisasi permainan, karakter tim, dan kemampuan bersaing, Tunisia 2026 dianggap sebagai salah satu tim paling rapuh yang pernah tampil di turnamen terbesar sepak bola dunia.
Ancaman Belanda Menanti Tunisia
Penderitaan Tunisia diperkirakan belum akan berakhir.
Pada pertandingan terakhir fase grup, mereka harus berhadapan dengan Belanda yang masih membutuhkan banyak gol demi mengamankan posisi juara grup.
Dengan selisih gol saat ini sudah mencapai minus delapan, Tunisia menghadapi risiko mengalami kekalahan yang lebih besar.
Jika gagal memperbaiki performa, perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 kemungkinan akan berakhir sebagai salah satu penampilan paling mengecewakan dalam sejarah turnamen.***