JAKARTA – Dampak musim kemarau mulai dirasakan di berbagai daerah dengan munculnya krisis air bersih yang memengaruhi ratusan keluarga. Namun di saat yang sama, sejumlah wilayah di Indonesia masih dibayangi bencana hidrometeorologi basah berupa banjir dan angin kencang. Kondisi ini menunjukkan ancaman bencana yang terjadi secara bersamaan di tengah masa peralihan musim.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat perkembangan situasi bencana nasional hingga Minggu (5/7/2026) pukul 07.00 WIB berdasarkan laporan Direktorat Koordinasi Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops). Data tersebut memperlihatkan bahwa kekeringan mulai meluas di sejumlah wilayah, sementara banjir dan cuaca ekstrem masih terjadi di beberapa daerah lainnya.
Fenomena tersebut menjadi perhatian karena masyarakat di berbagai provinsi kini menghadapi ancaman yang berbeda-beda sesuai karakteristik wilayahnya. Di sebagian daerah, warga kesulitan memperoleh air bersih akibat kemarau, sedangkan daerah lain masih bergelut dengan genangan banjir dan kerusakan akibat angin kencang.
Kekeringan Mulai Memicu Krisis Air Bersih
Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menjadi salah satu wilayah yang mulai terdampak kekeringan. Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono, dilaporkan mengalami krisis air bersih pada Sabtu (4/7).
Sebanyak 60 kepala keluarga atau 84 warga terdampak akibat menurunnya ketersediaan air. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang berkoordinasi dengan pemerintah desa melakukan asesmen lapangan sekaligus menyalurkan bantuan air bersih.
Sebanyak dua tangki air dengan total sekitar 5.000 liter didistribusikan kepada warga di Dusun Ngoho, Desa Kemitir sebagai langkah penanganan darurat.
Langkah tersebut dilakukan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi sembari pemerintah daerah terus memantau perkembangan kondisi kekeringan selama musim kemarau berlangsung.
Pasuruan Salurkan Empat Rit Air Bersih
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Penurunan debit sumber air mulai dirasakan warga Desa Kadungrejo, Kecamatan Winongan.
Sedikitnya 240 kepala keluarga terdampak akibat berkurangnya pasokan air bersih. Merespons kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Pasuruan langsung mengirim bantuan air bersih ke wilayah terdampak.
Distribusi dilakukan sebanyak empat rit menuju Dusun Krajan 5 dan Dusun Grobyok guna memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi di tengah musim kemarau.
Penyaluran bantuan tersebut menjadi bagian dari respons cepat pemerintah daerah untuk mencegah dampak yang lebih luas akibat kekeringan berkepanjangan.
Deli Serdang Masih Dilanda Banjir
Di tengah meningkatnya ancaman kekeringan, sejumlah daerah justru masih bergulat dengan bencana hidrometeorologi basah.
Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dilaporkan mengalami banjir yang melanda Desa Paluh Kemiri, Kecamatan Lubuk Pakam, pada Sabtu (4/7) sekitar pukul 04.35 WIB.
Banjir berdampak terhadap 27 kepala keluarga atau 108 jiwa.
Merespons kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Deli Serdang mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan kaji cepat, pemantauan kondisi lapangan, sekaligus memonitor perkembangan tinggi muka air.
Upaya tersebut membuahkan hasil setelah genangan dilaporkan mulai berangsur surut pada hari yang sama sehingga situasi perlahan kembali terkendali.
Angin Kencang Rusak Belasan Rumah
Selain banjir, Kabupaten Deli Serdang juga sempat diterjang angin kencang pada Jumat (3/7). Cuaca ekstrem tersebut menerjang enam desa di Kecamatan Pancur Batu, yakni Desa Salam Tani, Hulu, Lama, Namo Rih, Namo Bintang, dan Pertampilen.
Sedikitnya 15 kepala keluarga atau 54 warga terdampak akibat kejadian tersebut.
Angin kencang juga mengakibatkan kerusakan pada 15 rumah, terdiri atas delapan rumah rusak ringan dan tujuh rumah rusak sedang.
BPBD Kabupaten Deli Serdang kemudian mengerahkan Tim Reaksi Cepat untuk membantu warga membersihkan puing-puing bangunan yang rusak sekaligus melakukan pendataan dampak.
Saat ini kondisi di lokasi dilaporkan telah kondusif dan masyarakat sudah kembali menempati rumah masing-masing.
BNPB Ingatkan Ancaman Kemarau Masih Berlanjut
BNPB mengingatkan bahwa memasuki puncak musim kemarau, potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan diperkirakan masih akan meningkat di sejumlah wilayah.
Dalam keterangannya, BNPB menegaskan, **”Menyikapi bencana akibat musim kemarau yang terjadi di sejumlah wilayah, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan tidak melakukan pembakaran lahan, menggunakan air secara bijak, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan maupun kekeringan.”**
Lembaga tersebut juga meminta pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi melalui pemantauan kawasan rawan bencana, menyiapkan sumber daya yang memadai, serta memastikan distribusi air bersih tetap berjalan bagi masyarakat yang mulai mengalami krisis air.
BNPB juga menekankan pentingnya kesiapan seluruh pemangku kepentingan menghadapi potensi bencana yang dapat berubah dengan cepat selama musim kemarau maupun masa transisi cuaca, sehingga dampak terhadap masyarakat dapat ditekan seminimal mungkin.