JAKARTA – Pemerintah terus mempercepat hilirisasi daerah melalui penguatan Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) berbasis komoditas unggulan lokal.
Strategi tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus memperluas kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kementerian Perindustrian menilai pengembangan sentra IKM menjadi salah satu langkah penting agar potensi bahan baku di berbagai daerah mampu menghasilkan produk bernilai tinggi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah terus memperkuat hilirisasi melalui pembangunan dan pengembangan sentra IKM di berbagai wilayah.
Program tersebut diharapkan mampu menciptakan industri berbasis sumber daya lokal yang lebih produktif, kompetitif, dan berkelanjutan.
Selain meningkatkan daya saing produk, hilirisasi juga menjadi instrumen untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kementerian Perindustrian mendorong setiap pemerintah daerah memetakan potensi sentra IKM sesuai karakteristik komoditas unggulan masing-masing.
Langkah itu dilakukan agar pembinaan industri berjalan lebih tepat sasaran dan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
“Kementerian Perindustrian terus mengajak pemerintah daerah mengidentifikasi potensi sentra IKM yang dimiliki.”
“Langkah tersebut bertujuan agar pembinaan industri lebih efektif, tepat sasaran, dan mampu memaksimalkan pengembangan sektor industri secara berkelanjutan,” ujar Agus di Jakarta, Minggu, 5 Juli 2026.
Pemerintah juga memastikan setiap sentra IKM yang telah dibangun dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Evaluasi dilakukan agar fasilitas yang tersedia mampu mendukung aktivitas produksi hingga pemasaran secara berkelanjutan.
“Kami memastikan sentra IKM yang dibangun melalui dukungan pemerintah mampu memberi nilai tambah terhadap bahan baku lokal.”
“Sentra IKM tersebut juga diharapkan membuka lapangan kerja, memperluas akses pasar, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Agus.
Salah satu implementasi strategi tersebut diwujudkan melalui pembangunan Sentra IKM Olahan Pisang di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Pengembangan kawasan itu menjadi bagian dari upaya mempercepat hilirisasi komoditas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Komoditas yang dikembangkan tidak hanya pisang, tetapi juga jagung, singkong, sorgum, dan berbagai hasil pertanian lokal lainnya.
“Pengembangan Sentra IKM Olahan Pisang di Kabupaten Manggarai Timur merupakan bentuk komitmen pemerintah mempercepat hilirisasi komoditas unggulan daerah.”
“Komoditas tersebut meliputi pisang, jagung, singkong, sorgum, dan berbagai komoditas lokal lainnya,” ucap Agus.
Agus menilai pembangunan industri pengolahan harus berada sedekat mungkin dengan sumber bahan baku.
“Agar nilai tambah dinikmati oleh masyarakat dan pelaku usaha di daerah,” ujar Agus.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Reni Yanita, menyebut Sentra IKM Olahan Pisang dibangun melalui kerja sama Kemenperin dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.
Fasilitas yang tersedia mencakup gedung produksi, ruang pengemasan, gudang, gedung promosi, serta berbagai mesin dan peralatan pengolahan.
Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mempercepat peningkatan kapasitas pelaku IKM sekaligus mendukung pengembangan produk lokal.
“Fasilitas yang telah dibangun harus menjadi pusat produksi dan pusat pembelajaran. Fasilitas itu juga menjadi pusat promosi serta kolaborasi bagi pelaku IKM olahan pangan di Manggarai Timur,” ujar Reni.
Reni menekankan penguatan kelembagaan pengelola sentra harus terus dilakukan agar mampu menghasilkan produk yang berdaya saing.
Produk yang dihasilkan juga harus memenuhi standar mutu, keamanan pangan, legalitas usaha, sertifikasi halal, serta memiliki identitas khas Manggarai Timur.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Yedi Sabaryadi, menilai kolaborasi menjadi faktor utama keberhasilan pengembangan sentra IKM.
Sinergi tersebut melibatkan pemerintah daerah, pengelola sentra, petani, pelaku usaha, hingga mitra pasar dalam satu ekosistem industri.
“Sentra IKM harus menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola, petani, pelaku usaha, dan mitra pasar. Kolaborasi tersebut diharapkan memberi manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Yedi.
Yedi juga menilai industri tenun memiliki peluang besar untuk terus berkembang karena menjadi bagian dari kekayaan budaya nasional.
Inovasi produk dinilai perlu terus dilakukan tanpa menghilangkan nilai tradisi yang menjadi identitas dan daya tarik daerah.***