SANA’A, YAMAN– Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam akan melakukan pembalasan terhadap Arab Saudi. Ancaman itu muncul menyusul serangan udara yang dilancarkan Riyadh ke sejumlah sasaran di Hodeida, wilayah yang dikuasai Houthi, dan dituding telah mengenai infrastruktur sipil.
Ketegangan terbaru ini dinilai membuka babak baru dalam konflik kawasan yang terus meluas sejak pecahnya konfrontasi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran beberapa bulan terakhir. Di tengah meningkatnya serangan di Laut Merah, Yaman kembali menjadi salah satu titik panas yang berpotensi memperbesar risiko keamanan regional.
Media yang berafiliasi dengan Houthi menyatakan Arab Saudi telah menyerang sejumlah lokasi di Hodeida pada Jumat (24/7/2026). Kelompok yang didukung Iran tersebut menegaskan aksi militer Riyadh tidak akan dibiarkan tanpa respons.
Dalam pernyataannya, media Ansarollah menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang memperburuk situasi keamanan di kawasan.
“Penargetan fasilitas sipil oleh musuh Saudi di Hodeida dan pulau Kamaran merupakan eskalasi yang berbahaya,” tulis media Ansarollah melalui akun Telegramnya.
Kelompok itu juga memperingatkan bahwa serangan tersebut akan dibalas.
“Kami menegaskan bahwa kejahatan baru-baru ini tidak akan dibiarkan begitu saja,” lanjut pernyataan tersebut.
Hodeida Kembali Jadi Titik Panas Konflik
Sumber keamanan Yaman yang dikutip AFP mengungkapkan bahwa sasaran utama serangan Saudi mencakup pangkalan angkatan laut di Kota Hodeida serta kamp militer di Pulau Kamaran.
Selain fasilitas militer, serangan juga dilaporkan menghantam area di sekitar pelabuhan Hodeida yang merupakan jalur logistik penting di pesisir Laut Merah.
“Serangan udara menargetkan gedung telekomunikasi di dekat gerbang timur pelabuhan Hodeida dan pangkalan angkatan laut di Ras al-Kathib di Hodeida,” ujar sumber keamanan Yaman yang enggan disebutkan identitasnya.
Sejumlah warga Hodeida mengaku mendengar ledakan keras dari beberapa titik, termasuk kawasan sekitar pelabuhan yang selama ini menjadi pusat aktivitas perdagangan dan distribusi bantuan kemanusiaan.
Televisi Al-Masirah milik Houthi melaporkan sedikitnya dua warga sipil mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Korban terdiri atas seorang pekerja di Hodeida dan seorang perempuan yang berada di Pulau Kamaran.
Saudi Sebut Serangan Ditujukan ke Target Militer
Di sisi lain, koalisi militer pimpinan Arab Saudi membantah menargetkan fasilitas sipil. Riyadh menegaskan operasi militer dilakukan terhadap lokasi-lokasi milik Houthi yang dinilai menjadi ancaman bagi pelayaran internasional di Laut Merah.
Operasi itu disebut sebagai respons langsung atas meningkatnya serangan Houthi terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.
Beberapa hari sebelumnya, Houthi mengklaim telah menyerang dua kapal yang disebut berkaitan dengan Arab Saudi sebagai bagian dari blokade maritim yang mereka umumkan.
Juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Turki al-Maliki, menegaskan tindakan militer dilakukan untuk menghilangkan ancaman terhadap lalu lintas perdagangan internasional.
“Militer Houthi yang teroris… menargetkan kapal-kapal dagang di Laut Merah,” tulis Turki al-Maliki melalui media sosial X.
Ia menambahkan operasi tersebut telah selesai setelah seluruh sasaran yang dianggap mengancam berhasil diserang.
“Koalisi melakukan respons yang tegas dan kuat” dengan menargetkan situs-situs militer Houthi yang digunakan untuk mengancam pelayaran di Laut Merah dan bahwa “respons militer kini telah berakhir,” ujar al-Maliki.
Laut Merah Kembali Jadi Medan Perebutan Pengaruh
Meningkatnya aksi saling serang antara Houthi dan Arab Saudi memperlihatkan bahwa Laut Merah kembali menjadi salah satu arena strategis dalam konflik Timur Tengah.
Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute perdagangan paling vital di dunia. Gangguan terhadap keamanan pelayaran berpotensi memengaruhi distribusi energi, logistik global, hingga stabilitas ekonomi kawasan.
Ketegangan kali ini juga terjadi di tengah meluasnya rivalitas geopolitik antara kelompok-kelompok yang didukung Iran dan negara-negara Arab yang bersekutu dengan Barat.
Pengamat menilai perkembangan terbaru dapat memperbesar risiko konflik lintas negara apabila aksi balasan terus berlanjut.
Gencatan Senjata Terancam Runtuh
Kelompok Houthi telah terlibat perang melawan pemerintah Yaman sejak 2014. Konflik berkepanjangan tersebut telah menimbulkan salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia dengan korban jiwa mencapai ratusan ribu orang serta jutaan warga kehilangan tempat tinggal.
Meski gencatan senjata yang dimulai pada 2022 sempat menurunkan intensitas pertempuran, rangkaian bentrokan dan serangan terbaru memperlihatkan kondisi keamanan kembali memburuk.
Ancaman pembalasan dari Houthi terhadap Arab Saudi menambah kekhawatiran bahwa konflik Yaman dapat kembali meningkat menjadi perang terbuka, sekaligus memperluas instabilitas yang kini melanda kawasan Timur Tengah.