RIYADH, AS – Pemerintah Arab Saudi secara resmi mendesak pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menahan diri melancarkan aksi militer besar-besaran terhadap Iran setidaknya hingga musim haji 2026 berakhir. Desakan ini muncul di tengah kekhawatiran mendalam bahwa konflik baru di Timur Tengah akan mengganggu keselamatan dan kelancaran ibadah haji yang diikuti lebih dari 1,5 juta jemaah asing.
Menurut laporan media internasional, permintaan tersebut disampaikan Riyadh kepada Washington agar menghindari segala bentuk provokasi yang dapat memicu ketegangan baru selama periode suci umat Islam tersebut. Musim haji tahun ini dimulai pada 24 Mei 2026 dan berlangsung selama enam hari, menjadi salah satu peristiwa keagamaan terbesar di dunia.
Sejumlah negara Teluk lainnya, termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab, turut menyampaikan pesan serupa. Dalam pembicaraan tingkat tinggi beberapa hari terakhir, para pemimpin Teluk menekankan pentingnya memberi ruang bagi jalur diplomasi daripada konfrontasi militer.
“Negara-negara Teluk menunjukkan front persatuan dalam menekan Washington agar tidak memicu konflik baru selama musim haji berlangsung,” tulis laporan tersebut.
Kekhawatiran Utama: Keselamatan Jemaah dan Stabilitas Kawasan
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah potensi gangguan mobilitas jutaan jemaah haji jika pecah konflik baru. Para pejabat khawatir serangan balasan Iran terhadap negara tetangga bisa menyebabkan kekacauan logistik, termasuk penutupan jalur penerbangan internasional yang menjadi jalur utama jemaah dari Asia Selatan dan Asia Timur.
Pusat-pusat transit penting seperti Doha dan Dubai berpotensi terdampak, yang dapat membuat ribuan jemaah terlantar di negara-negara Teluk menjelang Idul Adha. Selain aspek keamanan, eskalasi juga dikhawatirkan membebani otoritas Saudi yang tengah fokus mengelola kerumunan besar di Mekah dan Madinah.
Analis regional menilai, aksi militer selama periode haji bukan hanya berisiko kemanusiaan, tetapi juga dapat merusak citra Saudi sebagai penyelenggara ibadah haji terbesar di dunia serta berdampak ekonomi signifikan.
Diplomasi Intensif di Balik Layar
Desakan ini muncul setelah pemerintahan Trump melakukan serangkaian pembicaraan dengan pemimpin Teluk. Para pejabat Gulf Cooperation Council (GCC) mendesak AS untuk memprioritaskan diplomasi dalam meredakan ketegangan dengan Teheran.
Meski gencatan senjata antara AS dan Iran masih berlaku sejak 8 April lalu, Presiden Trump sebelumnya menyebut negosiasi berada di “garis batas” — antara tercapainya terobosan diplomatik atau kembalinya aksi militer.
Upaya mediasi regional juga terus berjalan. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, dijadwalkan mengunjungi Iran sebagai bagian dari inisiatif meredakan ketegangan.
Latar Belakang Ketegangan AS-Iran
Ketegangan antara Washington dan Teheran telah berlangsung lama, dengan siklus ancaman dan diplomasi yang kerap berulang. Arab Saudi dan sekutu Teluknya selama ini menjadi pihak yang paling terdampak tidak langsung dari konflik tersebut, mengingat posisi geografis dan ketergantungan pada stabilitas kawasan untuk sektor pariwisata religi dan ekonomi energi.
Dengan haji sebagai momentum tahunan yang sangat sensitif, Riyadh tampaknya berusaha memisahkan isu keamanan nasional dengan kewajiban keagamaan global umat Islam.
Para pengamat menilai langkah Saudi ini mencerminkan sikap pragmatis: menjaga hubungan strategis dengan AS sambil melindungi kepentingan domestik dan regional yang sangat krusial.