JAKARTA – Kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan eksploitasi terhadap mantan pemain sirkus OCI (Oriental Circus Indonesia) menjadi sorotan tajam dalam rapat gabungan di Gedung DPR, Senayan.
Anggota Komisi III DPR RI, Saffarudin, menyampaikan keprihatinannya terhadap rentetan kejadian yang dialami para korban, yang diduga menjadi korban kekerasan sistematis di bawah pengelolaan sirkus ternama tersebut.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama berbagai pihak terkait pada Senin (21/4/2025), Saffarudin menegaskan pentingnya penanganan hukum secara serius dan menyeluruh atas persoalan ini.
Ia menilai sejumlah pengakuan dari para mantan pemain mengindikasikan kuat adanya praktik yang mengarah pada tindak pidana. “Hal itu perlu ditindaklanjuti secara serius secara hukum,” tegasnya.
Patah Tulang hingga Lumpuh
Saffarudin mengungkapkan bahwa beberapa korban mengaku pernah jatuh dari ketinggian 15 meter, mengalami cedera berat seperti keseleo dan patah tulang, namun hanya mendapatkan pengobatan seadanya.
Ia bahkan menyinggung adanya korban yang kini menderita kelumpuhan akibat penanganan yang tidak layak.
Menurutnya, perlakuan terhadap para pemain tersebut menunjukkan indikasi kelalaian fatal.
Komnas HAM pun telah mengeluarkan rekomendasi yang menyatakan adanya pelanggaran HAM.
Menanggapi itu, Saffarudin meminta penjelasan langsung dari pihak Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat mengenai langkah-langkah konkret yang telah dan akan dilakukan.
Selain kekerasan fisik, Saffarudin menyoroti pula aspek eksploitasi anak dalam operasional OCI.
Ia menyebutkan bahwa anak-anak yang direkrut awalnya dijanjikan akan mendapatkan pendidikan di luar negeri.
Namun pada kenyataannya, mereka justru dilatih menjadi pemain sirkus sejak dini. Ia menilai hal ini sebagai bentuk penipuan yang mengarah pada pelanggaran serius terhadap hak-hak anak.
“Kemudian masalah anak-anak ini itu kan eksploitasi terhadap anak-anak, kenapa memang boleh apa enggak dilakukan itu? karena niat awalnya hanya mau disekolahkan ke luar negeri, malah dilatih jadi sirkus.”
“Jadi seolah-olah ada penipuan di sini sehingga terjadilah pelanggaran-pelanggaran,” pungkasnya.***