PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), emiten pengolahan udang yang turut dimiliki oleh Kaesang Pangarep, mengambil langkah drastis untuk menambal lubang keuangan. Melalui anak usahanya, PT Tri Mitra Makmur (TMM), perseroan resmi melepas sejumlah aset strategis di Situbondo, Jawa Timur, senilai Rp135 miliar.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Berdasarkan keterbukaan informasi tanggal 13 Maret 2026, penjualan aset ini merupakan bagian dari manuver restrukturisasi utang dan efisiensi operasional di tengah kondisi keuangan yang kian tertekan.
Dilego untuk Melunasi Utang ke BCA
Aset yang dilepas meliputi lahan seluas 66.835 meter persegi, bangunan pabrik, serta mesin produksi yang sebelumnya merupakan fasilitas TMM Plant 1, 2, dan 4. Pembelinya adalah PT Nusantara Seafood Adhikarya, perusahaan pembekuan ikan yang dipastikan tidak terafiliasi dengan PMMP.
Menariknya, seluruh dana hasil penjualan ini tidak akan masuk ke kas operasional, melainkan langsung dialirkan untuk melunasi sebagian pokok pinjaman di PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Manajemen mengakui bahwa pelepasan ini dilakukan atas permintaan kreditur perbankan guna menurunkan beban bunga yang kian mencekik.
Pabrik yang dijual tersebut sebenarnya sudah tidak beroperasi alias idle sejak awal 2025. Hal ini dipicu oleh anjloknya permintaan pasar ekspor, terutama dari Amerika Serikat yang selama ini menjadi pasar utama perseroan. Dengan harga jual Rp135 miliar, nilai tersebut dinilai wajar karena sedikit di atas nilai pasar hasil penilaian independen sebesar Rp134,56 miliar.
Raport Merah dan Ekuitas Negatif
Penjualan aset ini menjadi “napas buatan” bagi PMMP yang sedang menghadapi badai finansial. Sepanjang tahun 2025, performa emiten ini merosot tajam:
-
Ekuitas: Berbalik negatif sebesar USD30,4 juta, padahal tahun sebelumnya masih positif USD81,32 juta.
-
Liabilitas: Melonjak hingga USD257,13 juta.
-
Total Aset: Menyusut signifikan sebesar 26,35% menjadi USD220,73 juta.
Sebagai informasi, putra mantan Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, menggenggam 7,27% saham PMMP melalui PT Harapan Bangsa Kita (GK Hebat). Meskipun kondisi keuangan sedang goyah, manajemen menjamin bahwa operasional perseroan tidak akan terganggu. Mereka mengklaim pesanan pelanggan masih bisa ditangani oleh fasilitas produksi lain yang masih aktif.