JAKARTA – Di tengah perkembangan teknologi yang semakin canggih, Generasi Z justru menunjukkan ketertarikan terhadap berbagai kebiasaan yang sempat ditinggalkan.
Barang-barang dan aktivitas jaman dulu (jadul) yang identik dengan era 1990-an hingga awal 2000-an kini kembali menjadi bagian dari gaya hidup anak muda.
Mulai dari mencetak foto, menggunakan kamera digital lawas, hingga bermain board game bersama teman, tren retro kembali mendapatkan tempat di tengah masyarakat.
Fenomena ini tidak hanya dipengaruhi oleh rasa nostalgia, tetapi juga keinginan Gen Z untuk mencari pengalaman yang lebih autentik di tengah kehidupan yang serba digital.
Media sosial turut mempercepat penyebaran tren tersebut sehingga berbagai kebiasaan lama kembali populer dalam waktu singkat.
Foto Cetak Kembali Diminati

Meski hampir semua momen kini tersimpan di galeri ponsel, banyak anak muda mulai mencetak foto favorit mereka.
Foto-foto tersebut kemudian dijadikan dekorasi kamar, dimasukkan ke dalam album, atau diberikan sebagai hadiah kepada orang terdekat.
Berbeda dengan foto digital yang mudah terlupakan karena tersimpan di ribuan file, foto cetak dianggap memiliki nilai emosional yang lebih tinggi.
Aktivitas ini juga menjadi cara untuk mengabadikan kenangan dalam bentuk fisik yang dapat disimpan dalam jangka panjang.
Popularitas kamera instan dan layanan cetak foto juga meningkat seiring banyaknya unggahan bertema scrapbook, journaling, dan dekorasi kamar di media sosial.
Tren ini menunjukkan bahwa pengalaman memegang hasil cetak secara langsung masih memiliki daya tarik tersendiri bagi Generasi Z.
Kamera Digital Kembali Diburu

Selain foto cetak, kamera digital keluaran awal 2000-an atau yang dikenal sebagai digital compact camera kembali diminati.
Banyak anak muda mencari kamera bekas karena hasil fotonya memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kamera ponsel.
Warna yang lebih natural, efek kilat bawaan, serta kualitas gambar yang sederhana justru menjadi daya tarik utama.
Foto yang dihasilkan dianggap memberikan nuansa nostalgia tanpa memerlukan proses penyuntingan yang rumit.
Fenomena ini semakin berkembang setelah banyak kreator konten di TikTok dan Instagram membagikan hasil foto menggunakan kamera digital lawas.
Akibatnya, permintaan terhadap kamera keluaran lama meningkat dan harga beberapa model bahkan ikut naik di pasar barang bekas.
Perpustakaan Ramai Dikunjungi Kembali

Di era ketika hampir semua informasi dapat diakses melalui internet, perpustakaan ternyata kembali menarik perhatian Generasi Z.
Banyak mahasiswa maupun pelajar memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat belajar karena suasananya lebih tenang dan minim gangguan.
Selain membaca buku, perpustakaan kini menjadi ruang untuk mengerjakan tugas, berdiskusi, hingga mencari inspirasi.
Sejumlah perpustakaan juga telah bertransformasi menjadi ruang publik yang lebih nyaman dengan desain modern, akses internet, dan berbagai fasilitas pendukung.
Meningkatnya tren membaca serta munculnya komunitas pembaca di media sosial seperti BookTok turut mendorong minat anak muda untuk kembali mengunjungi perpustakaan.
Aktivitas membaca kini tidak hanya menjadi kebutuhan akademik, tetapi juga bagian dari gaya hidup.
Board Game Kembali Dimainkan Saat Berkumpul

Permainan papan atau board game juga mengalami kebangkitan dalam beberapa tahun terakhir.
Saat berkumpul bersama keluarga atau teman, banyak anak muda memilih memainkan permainan seperti Uno, Monopoly, Catan, Jenga, hingga berbagai permainan strategi lainnya.
Di tengah dominasi permainan digital, board game menawarkan pengalaman interaksi yang lebih nyata.
Pemain dapat berkomunikasi secara langsung, bekerja sama, maupun berkompetisi dalam suasana yang lebih hangat.
Fenomena ini juga mendorong munculnya berbagai kafe bertema board game di sejumlah kota besar.
Tempat-tempat tersebut menjadi alternatif hiburan yang memungkinkan pengunjung menikmati waktu bersama tanpa terlalu bergantung pada gawai.
Earphone Berkabel Kembali Banyak Dipakai

Meski perangkat audio nirkabel semakin berkembang, earphone berkabel justru kembali digunakan oleh sebagian Generasi Z.
Selain lebih terjangkau, earphone kabel dianggap praktis karena tidak memerlukan baterai dan tidak perlu diisi ulang.
Sebagian pengguna juga menilai kualitas suara yang dihasilkan tetap baik untuk kebutuhan mendengarkan musik maupun mengikuti perkuliahan daring.
Di sisi lain, bentuk kabel yang terlihat jelas justru menjadi bagian dari gaya berpakaian bergaya retro yang sedang tren.
Media sosial ikut memperkuat popularitas aksesori ini. Banyak kreator konten memadukan earphone berkabel dengan fesyen vintage atau gaya Y2K sehingga kembali diminati sebagai bagian dari identitas visual.
Tren Lama Hadir dengan Sentuhan Baru
Kembalinya berbagai kebiasaan lama menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu membuat cara-cara konvensional ditinggalkan.
Generasi Z justru mampu menggabungkan unsur nostalgia dengan gaya hidup modern sehingga menghasilkan tren baru yang lebih relevan.
Fenomena ini juga membuktikan bahwa pengalaman yang autentik, interaksi langsung, serta nilai emosional menjadi faktor penting bagi anak muda saat memilih suatu produk atau aktivitas.
Selama mampu memberikan kesan yang berbeda dari rutinitas digital sehari-hari, berbagai tren retro diperkirakan akan terus bertahan dan berkembang di masa mendatang.***



