BATANG – Pasangan guru asal Pekalongan, Jawa Tengah, akhirnya mewujudkan impian memiliki rumah pertama melalui Program KPR Sejahtera berbasis Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Mereka adalah Abdurrozaq dan Najwa yang mengikuti Akad Massal KPR Sejahtera di Batang, Jawa Tengah, serta mengaku seluruh proses pengajuan berlangsung cepat dan tanpa hambatan, serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) gratis.
Abdurrozaq mengatakan proses administrasi hingga akad kredit selesai hanya dalam waktu sekitar dua pekan sehingga memberikan kepastian bagi keluarganya untuk segera menempati rumah baru.
“Sangat gembira ya, senang banget. Prosesnya sangat cepat, lancar. BPHTB-nya gratis, biaya surat-menyurat itu gratis semua. Jadi kita cuma bayar akadnya saja. Akad itu kurang lebih Rp3 juta, DP (uang muka) 0 persen, cicilannya di Rp1.050.000 (per bulan),” ujar Abdurrozaq.
Sebagai seorang guru, Abdurrozaq menilai skema pembiayaan tersebut sangat membantu karena memberikan kemudahan akses kepemilikan rumah dengan biaya awal yang ringan.
Selain cicilan terjangkau, ia menyebut keberadaan fasilitas umum menjadi alasan utama memilih kawasan perumahan tersebut dibanding sejumlah lokasi yang pernah disurvei sebelumnya.
“Yang bikin tertarik di sini fasumnya, fasilitas umumnya. Kayak masjid, terus lapangan. Sebelum di sini saya survei ke beberapa lokasi, sangat jarang perumahan subsidi memprioritaskan ibadah, masjid. Jadi tertariknya di situ,” katanya.
Ia menambahkan lingkungan perumahan juga ramah bagi keluarga karena tersedia area bermain yang dapat dimanfaatkan anak-anak setiap hari.
“Iya, di sini ada playground-nya. Betah banget. Depan masjid lapangan tenis, sebelahnya playground,” tutur dia.
Menurutnya, suasana kawasan yang asri menjadi nilai lebih karena menawarkan lingkungan pegunungan yang sejuk dibanding tempat tinggal lamanya di kawasan perkotaan.
“Poin plus-nya sih asri karena kita tinggal di Pekalongan kota, panas banget. Dapat pegunungan di sini, pegunungan tapi mewah, asri kayak cluster,” ujarnya.
Sementara itu, Najwa yang berprofesi sebagai guru mengaji mengaku merasa nyaman tinggal di lingkungan perumahan subsidi tersebut.
“Nyaman,” ucapnya singkat.
Abdurrozaq berharap Program KPR Sejahtera terus diperluas agar semakin banyak masyarakat dari berbagai profesi memperoleh kesempatan memiliki rumah layak huni.
“Biasanya ambil perumahan itu kan susah, apalagi gajinya enggak pasti, tapi ini hampir semua profesi ditampung. Ini (tenornya) 20 tahun flat,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto karena program tersebut dinilai mempermudah keluarganya memiliki hunian pertama.
“Terima kasih Pak Presiden Prabowo atas bantuannya sehingga kita dapat memiliki rumah pertama dengan cepat dan mudah prosesnya. Terima kasih banyak,” kata dia.***



