JAKARTA – Perkembangan teknologi informasi saat ini telah mengubah lanskap komunikasi publik di Indonesia, salah satunya terlihat dari tingginya atensi masyarakat terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di ruang digital. Dinamika ini dinilai sebagai indikator positif meningkatnya partisipasi dan kesadaran masyarakat dalam ruang pertukaran informasi.
Pengamat Komunikasi Digital dari Laju Institute, Mandra Pradipta (Dipta) menjelaskan bahwa fenomena pembahasan MBG di platform digital mencerminkan transisi peran masyarakat dalam ekosistem komunikasi modern. Saat ini, publik tidak hanya bertindak sebagai penerima informasi, tetapi juga mitra aktif dalam membangun dialog yang konstruktif.
“Fenomena MBG memperlihatkan bahwa masyarakat tidak lagi hanya menjadi audiens yang menerima informasi, tetapi juga aktor yang ikut membentuk percakapan publik. Di era digital, perhatian publik lahir dari interaksi, bukan sekadar dari penyampaian informasi,” kata Dipta kepada wartawan.
Karakteristik Komunikasi Digital yang Partisipatif
Menurut Dipta, kehadiran media sosial memberikan ruang bagi masyarakat untuk membagikan sudut pandang, bertukar pengalaman, serta memberikan masukan yang membangun terhadap program-program yang sedang berjalan. Karakteristik inilah yang membuat komunikasi publik di era digital menjadi lebih terbuka, inklusif, dan partisipatif.
Tingginya interaksi digital tersebut menunjukkan adanya proses komunikasi dua arah yang berjalan secara alami. Dalam konteks ini, pembentukan pemahaman bersama tidak hanya bersumber dari satu arah, melainkan dari kolaborasi gagasan yang berkembang di tengah masyarakat untuk memperkaya perspektif normatif suatu isu.
“Yang menarik dari ruang digital saat ini adalah setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk terlibat dalam percakapan publik. Dari proses itulah lahir berbagai perspektif yang membuat suatu isu terus berkembang dan menjadi perhatian masyarakat luas,” jelasnya.
Mendorong Edukasi dan Etika Berdigital
Meskipun penguatan budaya partisipasi ini membawa dampak positif bagi ekosistem informasi, Dipta menggarisbawahi pentingnya menjaga nilai-nilai etika komunikasi. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan sikap saling menghormati dan fokus pada substansi diskusi yang produktif.
Ia menambahkan, kualitas dari sebuah ruang komunikasi publik tidak semata-mata diukur dari kuantitas percakapan yang ada, melainkan dari bagaimana ruang tersebut dapat dioptimalkan untuk menghasilkan dialog yang sehat dan bermanfaat bagi kepentingan bersama.
“Ke depan, tantangan komunikasi publik bukan lagi bagaimana menyampaikan informasi kepada masyarakat, melainkan bagaimana membangun ruang percakapan yang mampu melibatkan masyarakat secara bermakna dan berkelanjutan,” tutur Dipta.
Sebagai penutup, Dipta melihat bahwa ketertarikan publik terhadap isu seperti program MBG menandakan bahwa masyarakat semakin edukatif dan proaktif dalam mencermati program-program yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
“Pada akhirnya, kekuatan komunikasi digital bukan hanya terletak pada kecepatan penyebaran informasi, tetapi pada kemampuannya menghadirkan ruang dialog yang memungkinkan masyarakat terlibat, berbagi pandangan, dan membangun pemahaman bersama,” pungkasnya.