WASHINGTON, AS – Perang Iran kembali menjadi pemicu utama perselisihan terbuka antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan Vatikan. Wakil Presiden JD Vance, pejabat Katolik tertinggi di kabinet AS, secara tegas meminta Paus Leo XIV menjaga jarak dari urusan politik dalam negeri Amerika Serikat.
“Biarkan Vatikan tetap pada urusan moral dan biarkan presiden Amerika Serikat yang mengatur kebijakan publik Amerika,” tegas Vance dalam wawancara yang dikutip The New York Times, Selasa (14/4/2026).
Pernyataan Vance muncul di tengah eskalasi kritik timbal-balik antara Trump dan Paus Leo XIV terkait perang di Iran serta isu imigrasi.
Vance sendiri menilai ketegangan tersebut sebagai hal yang wajar. “Ketika mereka (Trump dan Paus) berada dalam konflik, maka mereka memang berada dalam konflik. Saya tidak terlalu mengkhawatirkannya,” ujarnya.
Menurut Vance, perbedaan pandangan antara Gedung Putih dan Takhta Suci memang kerap terjadi. Ia tetap menunjukkan sikap diplomatis.
“Saya pikir itu hal yang baik bahwa Paus memperjuangkan hal-hal yang ia pedulikan, tetapi kita juga akan berbeda pandangan dalam beberapa hal substantif,” katanya.
Vatikan Kritik Perang Iran Tak Memiliki Dasar Moral
Ketegangan ini mencuat setelah upaya diplomasi AS yang melibatkan Vance gagal mencapai kesepakatan damai dengan Iran meski telah ada gencatan senjata. Paus Leo XIV menjadi salah satu suara paling vokal menentang konflik tersebut.
Ia menolak narasi bahwa perang memiliki legitimasi ilahi dan menegaskan bahwa misi Kristen kerap disalahartikan untuk kepentingan dominasi yang bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus.
Pandangan serupa disuarakan para pemimpin Gereja Katolik Amerika. Dalam wawancara dengan CBS, Uskup Agung Washington Robert McElroy menyatakan perang Iran bukanlah
“perang yang adil” menurut ajaran Katolik. Sementara Kardinal Blase Cupich dari Chicago menilai narasi pemerintah AS telah “mendehumanisasi korban perang”.
Trump Serang Paus Lewat Media Sosial, Tolak Minta Maaf
Presiden Trump memperkeruh situasi dengan serangkaian serangan langsung terhadap Paus Leo XIV di media sosial. Ia menyebut Paus lemah terhadap kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri, bahkan mengklaim secara keliru peran dalam pemilihan Paus. Trump menolak permintaan maaf atas pernyataannya.
“Saya hanya merespons Paus Leo, tidak ada yang perlu diminta maaf. Dia yang salah,” tegas Trump kepada wartawan, dikutip The New York Times.
Paus Leo XIV merespons dengan sikap tegas. “Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump atau untuk berbicara lantang tentang pesan Bible,” ujarnya.
Ketegangan semakin memuncak ketika Trump mengunggah gambar buatan kecerdasan buatan yang menggambarkan dirinya seperti figur Yesus. Unggahan tersebut menuai kritik luas dari berbagai kalangan dan akhirnya dihapus. Trump membela unggahannya sebagai “bentuk humor”.
Reaksi Internasional dan Domestik
Di luar negeri, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan pernyataan Trump terhadap Paus “tidak dapat diterima”. Ia menegaskan pentingnya seruan perdamaian yang disampaikan Vatikan.
Di dalam negeri AS, para pemimpin Gereja Katolik bersatu menyuarakan kekecewaan. Uskup Agung Paul S. Coakley menyatakan dirinya kecewa atas serangan Trump. Kardinal Joseph Tobin menilai tindakan presiden mencerminkan “ketidakpahaman serius terhadap peran Paus”. Bahkan tokoh konservatif seperti Uskup Robert Barron menyebut komentar Trump “tidak pantas dan tidak menghormati”, sekaligus menegaskan bahwa Paus memiliki hak penuh untuk menyuarakan ajaran moral Gereja.