PARIS, PRANCIS – Militer Prancis meningkatkan tekanan terhadap jaringan pengiriman minyak Rusia setelah angkatan lautnya, dengan dukungan Inggris, mencegat sebuah kapal tanker yang diduga menjadi bagian dari “armada bayangan” Moskow untuk menghindari sanksi internasional. Langkah tersebut kembali menyoroti persaingan geopolitik yang semakin tajam di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengonfirmasi operasi pencegatan itu melalui akun media sosial X pada Senin (2/6). Kapal tanker bernama Tagor diketahui dihentikan dan diperiksa sehari sebelumnya saat berlayar di Samudra Atlantik.
Dalam unggahannya, Macron menegaskan bahwa negaranya tidak akan membiarkan kapal-kapal yang diduga digunakan untuk menghindari sanksi internasional bebas beroperasi di perairan intern“Tidak dapat diterima bahwa kapal-kapal menghindari sanksi internasional, melanggar hukum laut, dan membiayai perang yang telah dilancarkan Rusia selama lebih dari 4 tahun terhadap Ukraina,” tulis Macron.
Ia juga menyoroti risiko yang ditimbulkan armada tersebut terhadap keselamatan pelayaran dan lingkungan.
“Kapal-kapal ini, yang tidak menghormati aturan navigasi maritim paling dasar, juga merupakan ancaman bagi lingkungan dan keamanan semua orang,” lanjutnya.
Video yang diunggah Macron memperlihatkan personel militer turun dari helikopter dan menaiki kapal tanker yang menjadi sasaran operasi tersebut.
Diduga Gunakan Bendera Palsu
Otoritas maritim Prancis mengungkapkan bahwa Tagor berangkat dari Murmansk, pelabuhan utama Rusia di wilayah barat laut. Namun kapal itu diduga beroperasi dengan identitas yang tidak sah karena mengibarkan bendera Kamerun secara ilegal.
Kapal tersebut diketahui sedang menuju Limbe, kota pelabuhan di pesisir barat Kamerun, ketika dihentikan oleh pasukan Prancis.
Juru bicara Prefektur Maritim Atlantik, Guillaume Le Rasle, mengatakan kapal itu sudah lama masuk dalam radar pengawasan otoritas Barat karena terkait dengan jaringan kapal yang dikenai sanksi oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat.
“Ini adalah kapal yang diketahui dan dilacak,” kata Le Rasle kepada AFP.
Menurutnya, keputusan untuk menghentikan dan mengalihkan pelayaran kapal diambil setelah otoritas menemukan sejumlah indikasi pelanggaran.
“Keputusan untuk mengalihkannya diambil pada Minggu malam. Tujuan pengalihan ini adalah untuk memverifikasi keabsahan benderanya,” ujarnya.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan kapal tanker tersebut nyaris tidak membawa muatan saat dicegat.
Jejak Mencurigakan di Laut Atlantik
Data pelacakan maritim menunjukkan Tagor memiliki riwayat pergantian bendera yang cukup sering, sebuah praktik yang kerap dikaitkan dengan upaya mengaburkan identitas kapal.
Sebelum dihentikan, sistem identifikasi otomatis (AIS) kapal terakhir kali mengirimkan sinyal sekitar sepekan lalu ketika berada di perairan dekat Norwegia. Saat itu kapal tercatat menggunakan bendera Madagaskar.
Praktik pergantian registrasi dan bendera kapal secara berulang menjadi salah satu modus yang sering digunakan armada bayangan Rusia untuk menghindari pemantauan dan pembatasan perdagangan minyak yang diterapkan negara-negara Barat.
Prefektur Maritim Atlantik menyebut operasi pencegatan berlangsung lebih dari 400 mil laut atau sekitar 740 kilometer di sebelah barat wilayah Brittany, Prancis.
Armada Bayangan Jadi Target Barat
Kasus Tagor menjadi bagian dari kampanye yang lebih luas untuk menekan sumber pendapatan energi Rusia. Minyak masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Moskow dan sumber penting pembiayaan operasi militernya di Ukraina.
Negara-negara Barat meyakini Rusia mengoperasikan ratusan kapal tanker dalam jaringan yang dikenal sebagai shadow fleet atau armada bayangan. Kapal-kapal tersebut dituding membantu menyalurkan minyak Rusia ke pasar internasional dengan menghindari berbagai pembatasan dan sanksi.
Prancis bersama sejumlah negara Eropa lainnya telah berkomitmen memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam aktivitas tersebut.
Sejak September tahun lalu, otoritas Prancis telah melakukan pemeriksaan terhadap sedikitnya tiga kapal lain yang dicurigai melanggar aturan maritim dan rezim sanksi internasional.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, kapal-kapal yang diperiksa akhirnya diizinkan melanjutkan pelayaran setelah pemiliknya membayar sanksi administratif.
Rentetan Penindakan Kapal Rusia
Pada September lalu, angkatan laut Prancis juga menaiki kapal tanker **Boracay** yang mengaku berbendera Benin. Kasus itu berujung proses hukum terhadap nakhoda berkewarganegaraan China.
Pengadilan Prancis pada Maret kemudian menjatuhkan hukuman penjara satu tahun secara in absentia dan menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap kapten kapal tersebut.
Tak berhenti di situ, pada Januari lalu pasukan Prancis menyita kapal tanker Rusia lain bernama **Grinch** yang juga dicurigai terkait jaringan armada bayangan.
Sementara pada Maret, kapal **Deyna** yang berangkat dari Murmansk dan berlayar menggunakan bendera Mozambik ditahan di Marseille untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Meningkatnya jumlah pelanggaran yang ditemukan membuat pemerintah Prancis memperketat regulasi maritim. Pada April lalu, Paris mengumumkan rencana menggandakan hukuman terhadap kapal yang tidak mengibarkan bendera secara benar atau menolak mematuhi ketentuan pelayaran internasional.
Putin Sebut Penahanan Kapal sebagai Pembajakan
Di sisi lain, Moskow terus mengecam langkah negara-negara Barat yang menahan atau memeriksa kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Rusia.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk “pembajakan” terhadap aset yang sah dan menilai Barat menggunakan sanksi sebagai alat tekanan politik.
Meski demikian, negara-negara Eropa menegaskan pengawasan terhadap armada bayangan akan terus ditingkatkan demi memastikan sanksi internasional berjalan efektif dan tidak digunakan untuk membiayai konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun di Ukraina.
Pencegatan Tagor menjadi sinyal terbaru bahwa pertempuran diplomatik dan ekonomi antara Rusia dan Barat kini tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga merambah jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.