Setelah tiga kali menelan pil pahit kekalahan pada Pilpres 2011, 2016, dan 2021, Keiko Fujimori (51) akhirnya resmi diumumkan sebagai Presiden terpilih Peru yang baru. Kemenangan ini menandai kembalinya salah satu dinasti politik paling kontroversial dan memecah belah di Amerika Latin ke panggung kekuasaan tertinggi.
Berdasarkan data akhir dari Kantor Proses Pemilu Nasional Peru, Keiko yang mengusung partai Kekuatan Populer (Fuerza Popular) menang tipis secara dramatis atas rival sayap kirinya, Roberto Sánchez. Dari total sekitar 18 juta suara yang masuk, Keiko unggul tipis dengan 50,13% suara melawan 49,86% milik Sánchez—hanya berselisih 49.641 suara!
Siapa Sebenarnya Keiko Fujimori?
Nama belakang “Fujimori” membawa beban sejarah yang sangat masif di Peru. Keiko adalah putri kandung dari mendiang Alberto Fujimori, mantan Presiden Peru keturunan imigran Jepang yang terkenal memerintah dengan tangan besi pada dekade 1990-an.
Perjalanan hidup Keiko bak sebuah roller coaster politik yang penuh intrik. Pada tahun 1994, Keiko secara mengejutkan diangkat menjadi First Lady (Ibu Negara) Peru di usianya yang masih remaja (19 tahun). Hal ini terjadi setelah ibunya, Susana Higuchi, bercerai dengan Alberto Fujimori usai sang ibu secara vokal mengkritik korupsi di dalam pemerintahan suaminya sendiri.
Meniti karier politiknya sendiri, Keiko sukses menembus parlemen pada 2006 dan mencetak sejarah sebagai wanita pertama di Peru yang berhasil menembus putaran final Pilpres pada tahun 2011.
Antara tahun 2018 hingga 2020, Keiko sempat ditahan beberapa kali dan menghabiskan 1,5 tahun di penjara atas investigasi kasus dana kampanye ilegal, sebelum tuduhan tersebut akhirnya dibatalkan.
Warisan Ayah: Antara Penyelamat Ekonomi dan Pelanggar HAM
Terpilihnya Keiko membangkitkan kembali memori kolektif rakyat Peru terhadap rezim mendiang ayahnya. Di satu sisi, Alberto Fujimori dipuja karena berhasil menjinakkan hiperinflasi negara dan menumpas pemberontak Maois.
Namun di sisi lain, reputasinya hancur total akibat skandal suap kepala intelijen yang membuatnya kabur ke Jepang pada tahun 2000. Alberto akhirnya diekstradisi dan dijatuhi hukuman 16 tahun penjara atas kasus pelanggaran HAM berat dan korupsi sebelum mendapatkan pengampunan kontroversial pada 2023.
Keiko dijadwalkan akan dilantik pada 28 Juli 2026 untuk masa jabatan 5 tahun, didampingi Luis Fernando Galarreta dan Miguel Ángel Torres Morales sebagai Wakil Presiden.
Ia akan resmi menjadi Presiden ke-9 Peru hanya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sebuah fakta yang menegaskan betapa rapuhnya stabilitas politik di sana.