Momen puncak penyerahan trofi juara Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife diwarnai aksi boikot suara oleh ribuan penonton. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sasaran cemoohan massal saat berjalan berdampingan dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino, di penghujung laga final, Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Dilansir dari AFP, gemuruh sorakan bernada ejekan (booing) langsung menggema dari tribun penonton begitu kedua tokoh kontroversial tersebut melangkahkan kaki memasuki lapangan hijau untuk memimpin upacara penyerahan trofi kepada tim pemenang, Spanyol.
Suasana Mereda Saat Pengalungan Medali
Ketegangan di area penyerahan piala baru perlahan mencair ketika prosesi resmi dimulai. Gianni Infantino mengonfirmasi bahwa Trump hadir di lapangan secara khusus untuk menyerahkan langsung trofi emas kepada kapten Timnas Spanyol.
Sorakan negatif penonton baru mereda dan digantikan tepuk tangan saat Trump dan Infantino mulai mengalungkan medali perak serta emas kepada para pemain dan staf pelatih.
Spanyol sendiri berhak mengangkat trofi prestisius tersebut setelah menumbangkan Argentina lewat gol tunggal Ferran Torres di babak perpanjangan waktu.
Akar Kemarahan Publik: Skandal Intervensi Kartu Merah
Kemarahan pencinta sepak bola dunia terhadap Trump dan Infantino bukan tanpa alasan. Beberapa pekan sebelum final, keduanya menjadi musuh bersama publik internasional setelah kedapatan melakukan intervensi politik yang mencederai sportivitas turnamen.
Tragedi itu bermula saat penyerang andalan Timnas AS, Folarin Balogun, diganjar kartu merah oleh wasit. Tidak terima, Trump langsung melakukan panggilan telepon darurat kepada Gianni Infantino untuk mempertanyakan keputusan tersebut.
Secara mengejutkan, tak lama setelah intervensi Trump, FIFA langsung menganulir dan menangguhkan hukuman kartu merah Balogun.
Meski regulasi berhasil diutak-atik demi memuluskan langkah tuan rumah, dewi fortuna nyatanya tetap enggan memihak Amerika Serikat.
Tepat pada 7 Juli 2026, Timnas AS justru dipulangkan secara tragis oleh Belgia setelah gawang mereka diacak-acak dan dibobol sebanyak 4 gol tanpa ampun. Intervensi Trump dinilai publik berakhir sia-sia, dan sorakan di laga final merupakan puncak kekesalan suporter atas rusaknya nilai keadilan dalam sepak bola.