Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda Indonesia menjadi sorotan dunia internasional. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) ikut mengawasi pergerakan titik api melalui potret citra satelit Aqua, yang memperlihatkan kepulan asap tebal menyelimuti Pulau Kalimantan hingga membumbung menyeberang ke wilayah Malaysia.
Dalam tangkapan citra tertanggal 1 September 2026 yang diunggah akun X @NASAEarth, tampak daratan Kalimantan tertutup lapisan asap tebal berwarna putih keabu-abuan. Sensor Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) pada satelit Aqua mendeteksi ratusan titik merah (hotspot) yang menandakan anomali suhu panas ekstrem di permukaan daratan.
“Api membara di Indonesia yang tengah mengalami kekeringan parah. Sebagian besar di antaranya merupakan kebakaran lahan gambut tropis yang terbakar perlahan di bawah permukaan, menghasilkan polusi udara sangat tinggi, dan teramat sulit dipadamkan,” rilis laporan resmi NASA Earth, Jumat (4/9/2026).
Pemerintah Indonesia Manfaatkan Teknologi Satelit NASA
Guna memantau eskalasi api secara mendekati waktu nyata (near real-time), Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan turut mengintegrasikan data satelit NASA dan NOAA (MODIS serta VIIRS) ke dalam platform pengawasan SiPongi.
Sistem pencatatan SiPongi mendeteksi sedikitnya 946 hotspot aktif di seluruh Indonesia. Kendati demikian, otoritas mengakui keterbatasan teknologi luar angkasa ini, sebab sensor satelit kerap kesulitan menembus tutupan asap yang terlalu pekat, awan tebal, maupun titik api yang membara tersembunyi di bawah kanopi hutan dan kedalaman lahan gambut.
Luas Karhutla Riau Tembus 18 Ribu Hektare, ISPA Melonjak 50 Ribu Kasus
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa titik api kini tersebar merata di enam provinsi prioritas, meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Di Provinsi Riau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat rekor akumulasi karhutla sepanjang tahun 2026 yang telah menembus 18.582,90 hektare dengan total 12.677 titik panas. Kabupaten Bengkalis menjadi area terdampak paling parah dengan kerusakan mencapai 8.454,40 hektare, disusul Pelalawan (6.640,99 ha) dan Indragiri Hilir (1.034,02 ha).
Berikut adalah data rincian luas area terbakar di Provinsi Riau sepanjang 2026:
-
Kabupaten Bengkalis: 8.454,40 hektare
-
Kabupaten Pelalawan: 6.640,99 hektare
-
Kabupaten Indragiri Hilir: 1.034,02 hektare
-
Kabupaten Indragiri Hulu: 605,02 hektare
-
Kota Dumai: 556,01 hektare
-
Kabupaten Rokan Hilir: 452,53 hektare
-
Kabupaten Siak: 373,06 hektare
-
Kabupaten Kepulauan Meranti: 217,45 hektare
-
Kabupaten Kampar: 141,66 hektare
-
Kota Pekanbaru: 103,33 hektare
-
Kabupaten Kuantan Singingi: 69,87 hektare
-
Kabupaten Rokan Hulu: 33,96 hektare
Eskalasi kabut asap pekat ini mulai melumpuhkan aktivitas warga dan memicu ancaman kesehatan serius. Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 50.891 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak sepanjang Juli hingga Agustus 2026, dengan 12.600 kasus di antaranya menyerang kelompok anak balita.