JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan warga pesisir Jakarta terhadap potensi banjir rob yang dapat berlangsung hingga 13 Agustus 2026.
Peringatan tersebut terutama ditujukan kepada masyarakat yang tinggal, bekerja, atau beraktivitas di kawasan dekat garis pantai.
Potensi banjir rob dipengaruhi oleh kenaikan pasang maksimum air laut yang diperkirakan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
BMKG memperkirakan periode pasang tertinggi berlangsung pada sore hingga malam, terutama sekitar pukul 17.00-23.00 WIB.
Berdasarkan prakiraan Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Priok, kondisi tersebut berlaku mulai Senin, 10 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB.
“Di pesisir Jakarta, tinggi pasang maksimum diperkirakan mencapai sekitar 1,1 meter pada pukul 19.00 WIB.”
“Sementara pasang minimum diprediksi berada di kisaran 0,1 meter pada sekitar pukul 06.00 WIB, Selasa, 11 Agustus 2026,” kata BMKG dalam keterangan resminya, dikutip Senin, 10 Agustus 2026.
Kenaikan muka air laut dapat meningkatkan risiko genangan, terutama di kawasan pesisir dengan sistem drainase yang tidak mampu mengalirkan air secara optimal.
Warga di daerah rawan diminta mencermati informasi terbaru mengenai pasang laut dan kondisi cuaca sebelum melakukan aktivitas.
Perigee dan Bulan Baru Berpengaruh
BMKG turut menyoroti fenomena astronomi yang berlangsung bersamaan dengan peningkatan pasang air laut di kawasan pesisir.
Fenomena perigee yang bertepatan dengan fase Bulan Baru dapat memengaruhi peningkatan ketinggian pasang maksimum air laut.
Kondisi tersebut membuat potensi genangan pesisir perlu diantisipasi, khususnya ketika pasang mencapai titik tertinggi pada sore hingga malam hari.
Masyarakat disarankan memantau perkembangan informasi resmi BMKG karena kondisi pasang dan cuaca dapat berubah sesuai dinamika atmosfer serta laut.
11 Wilayah Jakarta Berpotensi Terdampak
Sedikitnya 11 kawasan pesisir Jakarta masuk dalam daftar wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir rob.
Wilayah tersebut mencakup Kapuk Muara, Kamal Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, dan Tanjung Priok.
Kawasan tersebut memiliki aktivitas permukiman, perdagangan, pelabuhan, dan transportasi yang cukup padat sehingga genangan berpotensi mengganggu kegiatan masyarakat.
Selain Jakarta, potensi kondisi serupa juga menjadi perhatian di pesisir utara Jawa Barat, termasuk perairan Bekasi-Karawang, Subang, Indramayu, hingga Cirebon.
Gelombang Rendah, Angin Bisa Mencapai 20 Knot
Kondisi perairan Jakarta hingga utara Jawa Barat diperkirakan memiliki pola angin dari arah timur laut menuju tenggara.
Kecepatan angin maksimum sekitar 15 knot diprakirakan terjadi di wilayah perairan Kepulauan Seribu dan Subang.
Sementara itu, angin di sekitar perairan Indramayu dan Cirebon berpotensi mencapai kecepatan hingga 20 knot.
Meski demikian, tinggi gelombang di sejumlah perairan masih tergolong rendah dengan kisaran sekitar 0,5 hingga 1,25 meter.
Gelombang rendah diperkirakan terjadi di Kepulauan Seribu, Bekasi-Karawang, Subang, Indramayu, hingga Cirebon.
Namun, kondisi gelombang yang relatif rendah tidak menghilangkan risiko banjir rob akibat peningkatan pasang maksimum air laut.
Warga pesisir perlu tetap waspada, terutama pada periode sore hingga malam ketika pasang laut diperkirakan mencapai ketinggian tertinggi.***


