Sikap tegas diambil oleh Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT). Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo (Falen Kebo), resmi membekukan sementara seluruh proses pengajuan perpanjangan izin operasional Rumah Sakit Umum (RSU) Leona Kefamenanu.
Langkah ekstrem ini diambil sebagai respons langsung atas wafatnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (dr. Icha). Dokter muda tersebut meninggal dunia setelah diduga mengalami depresi akibat intimidasi hebat dari oknum anggota DPRD saat sedang bertugas di rumah sakit tersebut.
Bupati Kecewa: Pihak Rumah Sakit Lepas Tangan
Bupati Falen Kebo mengungkapkan kekecewaannya karena manajemen RSU Leona dinilai tidak acuh dan belum memberikan laporan atau penjelasan resmi apa pun kepada pemerintah daerah terkait tragedi yang menimpa karyawannya.
Ia menyayangkan sikap manajemen rumah sakit yang terkesan menutup-nutupi masalah, sehingga pemerintah daerah harus mencari informasi secara mandiri ke lapangan.
“Kami yang kemudian mencari sendiri informasi kejadian ini. Hal ini tidak boleh terjadi. Kami berpikir bahwa kamu (pihak RS Leona) jangan hanya ingin menggunakan tenaga nakes saja, tetapi berikan tanggung jawab sedikit! Jangan hanya mau menerima dokter berpraktik di sana, tetapi wajib melindungi ketika hal seperti ini terjadi,” cetusnya berapi-api.
Kronologi Intimidasi: Dibentak dan Ditunjuk Oknum DPRD
Sebelum mengembuskan napas terakhir, dr. Icha sempat menjadi sorotan publik akibat trauma psikologis berat yang dialaminya.
Paman almarhumah, Victor Manbait, membeberkan kronologi yang terjadi di ruang IGD RS Leona Kefamenanu saat dr. Icha sedang menangani pasien anak korban gigitan ular.
dr. Icha telah melakukan tindakan medis yang sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) dan arahan dokter spesialis.
Situasi memanas ketika pihak keluarga mendesak pemberian vaksin tertentu yang secara medis belum direkomendasikan dan stoknya tidak tersedia di RS.
Dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU datang ke IGD, berbicara dengan nada tinggi, dan salah satunya dilaporkan menunjuk-nunjuk wajah dr. Icha.
Insiden bentakan di depan umum tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi dr. Icha. Kepada keluarganya, almarhumah berulang kali mengaku ketakutan dan mengalami tekanan psikologis yang sangat berat sejak hari itu.
Pembelaan Anggota DPRD TTU
Dua anggota DPRD TTU yang terseret dalam kasus ini, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, langsung membantah keras tuduhan bahwa mereka telah mengintimidasi korban.
Therensius Lazakar mengakui bahwa dirinya memang berbicara dengan nada tinggi, namun dalihnya hal itu terjadi spontan karena situasi panik di IGD, bukan karena berniat mengintimidasi.
Norbertus Tubani mengklaim bahwa kedatangan mereka hanya untuk meminta penjelasan medis. Ia menambahkan bahwa setelah mendapat penjelasan, mereka justru langsung meminta maaf kepada Direktur RS Leona dan nakes yang bertugas.
Tragedi yang menimpa dr. Icha kini memicu gelombang solidaritas besar di NTT, sekaligus menjadi alarm keras terkait rapuhnya perlindungan hukum dan keamanan bagi para tenaga medis saat bertugas di daerah.
Hingga saat ini, proses pembekuan izin RSU Leona akan terus berjalan sampai manajemen bersikap kooperatif. Sementara itu, penyebab pasti kematian dr. Icha tengah diselidiki secara intensif oleh aparat penegak hukum di Polres Timor Tengah Utara demi mengungkap fakta secara objektif dan tuntas.