JAKARTA – Konflik Thailand-Kamboja yang memicu ketegangan bersenjata yang meletus di wilayah perbatasan pada pekan ini telah menelan korban jiwa dari kedua belah pihak.
Namun, di luar medan tempur, konflik yang tak kalah panas juga tengah berlangsung—yakni di medan digital.
Konflik Thailand-Kamboja kini tak hanya meresahkan dari sisi militer, tetapi juga membelah ruang maya yang dihuni jutaan warganet dari kedua negara.
Dalam laporan BBC News, Sabtu (26/7/2025), masyarakat—terutama generasi muda—terlibat dalam perdebatan sengit yang dipenuhi komentar emosional dan serangan balasan satu sama lain.
Pertikaian daring ini mencuat dari beragam topik sensitif seperti klaim wilayah, sejarah warisan budaya, hingga kuliner dan busana tradisional.
Salah satu pengguna dari Kamboja menuding pasukan Thailand sebagai pihak yang memulai kontak senjata.
Pernyataan ini memicu reaksi keras dari netizen Thailand yang justru membalas dengan menyindir maraknya sindikat penipuan daring di negara tetangga tersebut.
Kedua kubu lalu melancarkan serangan simbolik melalui media sosial dengan mengangkat tagar bernuansa provokatif.
Warganet Thailand menggencarkan penggunaan #CambodiaOpenedFire, sementara pihak Kamboja membalas lewat tagar tandingan “Thailand opened fire”.
Perselisihan daring ini pun berkembang menjadi ajang adu klaim nasionalisme yang sarat emosi dan sentimen sejarah.
Meningkatnya ujaran kebencian dan disinformasi di platform digital membuat kekhawatiran publik dan komunitas jurnalis meningkat.
Dalam respons cepat, asosiasi jurnalis dari kedua negara mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam maraknya informasi yang tak dapat diverifikasi dan berpotensi memperkeruh situasi.
“Masyarakat dari kedua belah pihak diminta lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menyikapi serta menyebarluaskan konten di media sosial,” bunyi imbauan resmi dalam pernyataan bersama tersebut.
Konflik ini menunjukkan betapa cepatnya perselisihan di dunia nyata dapat berubah menjadi pertarungan narasi di dunia maya.
Dengan dinamika media sosial yang tak mengenal batas, perang tagar pun menambah dimensi baru dari krisis Thailand-Kamboja yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.***